Rabu, 28 November 2012
JANGAN LELAH NAK...
Jangan lelah Nak...
Hidup ini hanya soal usaha
Usaha yang cerdas
Dibarengi doa
Dan serahkan hasil pada Alloh
Jangan lelah Nak...
Ia akan mematikan masa depanmu
Secara perlahan
Jangan lihat kawanmu Nak...
Ketika imanmu belum kuat
Jangan pula kau bandingkan dirimu dengan mereka
Karena tujuan dan kondisimu berbeda
Fokuslah Nak...
Pada apa yang akan kau capai
Untuk membahagiakan dirimu
Membanggakan orangtuamu
Menebar manfaat bagi agama dan bangsamu
Jangan lelah Nak...
Jika kau berada pada jalan yang kau yakini
Maka beribu malaikat menemanimu
Jangan lelah Nak...
Sampai kau kembali dengan senyuman Tuhanmu...
Selasa, 16 Oktober 2012
THE JUNGLE IS YOURS!!
Badai bernama ‘hopeless tingkat dewa’ akhirnya berlalu juga.. Yup, badai ini telah terhapus oleh salah satu nasehat dari dosen terbaik saya. Thanks Bu!
Awal Oktober saya mulai membuka mini proposal saya, hmm...setelah 1 bulan lebih tak tersentuh*hopeless revisi* setelah berusaha benerin dan nyiapin segala macam jawaban pertanyaan yang mungkin ditanyakan, saya pun pasrah dan ikhlas kalo nanti direvisi lagi. Yah..mungkin ini memang jalannya...
But, (5/10) Pembimbing Akademik’s said..
“Mbak ini saya acc tapi bagian rumusan masalah diperbaiki kalimatnya ya?”
Hwuahwaa... ACC?!!
Alhamdulillah ya Rabb, rasanya lega banget melewati badai ini...
Saya bergegas menjabat tangan PA dan mengatakan terimakasih, ke Lab saya senyam-senyum geje. Hehehe. Saya memang orangnya ekstrovert, jadi kalo seneng bakal keliatan banget kalo galau pun bakalan keliatan juga.. Ekspresif mungkin nama lainnya.
Seminggu kemudian saya bertemu dengan Ketua BKK saya, dan.... Alhamdulillah di ACC juga...
Lega juga *dikiiiit* tapi The Real Jungle is Coming....!!!!!
Hwuahwaa...
Bismillah...
Skripsi ini (mungkin) sebenarnya mudah, hanya butuh kegigihan!!
Yupzz, gigih ngadepin dosen, gigih ngadepin sakit, gigih ngadepin males, gigih ngadepin sikap menunda-nunda, gigih nyari duit*butuh pasokan buku nih...*, dan gigih-gigih yang lain..
Apalagi sekarang saya juga sedang menjalani masa PPL(Praktik Pengalaman Lapangan) buat mengajar di salah satu SMK di kota Solo... It’s not easy but it’s possible...
Hmm... setelah badai “hopeless tingkat dewa” saya sudah siap untuk berusaha lagi! Siap untuk kecewa, siap untuk jatuh, siap untuk ‘disakiti’ dan yang pasti saya SIAP UNTUK BERHASIL!!!
Badai datang bukan untuk merobohkan layar perahu kita, tapi untuk menguji ketahanan kita di tengah lautan lepas...
Tak hanya badai, setelah ini akan melewati hutan belantara... untuk dapat mencapai puncak gunung. Butuh rekan seperjalanan yang mumpuni, butuh bekal semangat dan motivasi yang banyak, dan ransel berisi kegigihan dan keikhlasan...
IT’S NOT EASY BUT POSSIBLE!!
Rabu, 19 September 2012
(Nyaris) Titik Terendah...
Setiap orang tentunya pernah mengalami masa titik terendah dalam hidup, It’s so normal.. :D
Hmm.. dan saya mungkin hampir mencapai titik tersebut. Dimana karena ‘beberapa hal’, saya menjadi males menggapai impian saya, seperti kehilangan harapan, Just Let It Flow! Padahal saya bukan tipe orang seperti itu, hmm..dan saya betul-betul menyadari ‘beberapa hal’ hal tersebut masih bisa ditolerir... tapi entah kenapa saya jadi males melakukan semuanya dengan segera, saya hanya ingin menulis. Hanya ingin menulis. Mengungkapkan apa yang dibenak. Bukan hanya tulisan ‘dear diary’ tapi tulisan ringan tapi ada ‘sesuatu’ yang dapat diambil. Yah...ada banyak hal yang berkecamuk di benak untuk dituangkan.. apalagi ada seorang teman yang mengatakan, bahwa tulisan saya membuat dia melakukan sesuatu istilah kerennya sih inspiring *halah
Sebenarnya niat nulis saya hanya ingin berbagi, berbagi pemikiran ringan, nyoba ngajak orang berpikir dengan sudut lain *sudut siku-sikunya saya.hphoho*. Selain itu nulis akan membuat saya lebih kuat, membuat saya keliatan sedikit pintar juga *halah
Balik lagi, ‘beberapa hal’ yang bikin saya hopeless mode on itu antara lain ide skripsi saya yang ‘terancam’, tempat PPL yang tidak sesuai harapan, kondisi keluarga yang belum kondusif, kenyataan tentang sahabat terbaik saya bukan yang ternyata semu, kenyataan orang yang selama ini saya anggap baik ternyata pamrih dan mengharap sesuatu yang membuat saya tidak nyaman, ditambah ada orang tiba-tiba manggil saya ‘superbaby’ tanpa alasan yang jelas * intermezzo kang... hehehehe:D*
Dan kenyataan, kalo saya harus move on dari orang yang selama 4 tahun ini hilir mudik di pikiran saya Hohoho*
Yang paling sensitif adalah soal skripsi dan tempat PPL. Dua hal tersebut adalah jalan saya menggapai cita-cita saya, yang membuat saya semangat menjalani hidup... tapi begitu dua hal tersebut terbentur keputusan orang lain, saya tak bisa berbuat apa-apa... saya kehilangan harapan hidup. Kehilangan untuk cepet lulus, kehilangan cepet membahagiakan orang tua, apapun itu saya jadi males mengerjakan dua-duanya. Betapa lemahnya saya. Itulah titik dimana saya tahu itu tidak baik, dan saya masih melakukannya. Menghentikan pencarian materi bakal skripsi saya. Saya belum bisa menerima dengan ‘ikhlas’ tempat PPL saya... saya belum bisa ikhlas... belum bisa enjoy...
Entah apa yang membuat saya begitu malas, apa mungkin ada setan yang bergelantungan. Ditambah ‘penyakit’ngantuk saya,jadilah saya menikmati tidur dengan berselimut kemalasan... #miris
Huft..
Huft..
Hmmm..
Namun mulai detik ini, saya harus mengakhiri semua itu!!! Rasa malas. Rasa tidak ikhlas. Saya tidak bisa begini terus. Harus belajar pasrah. Semua sudah jalan Tuhan. Yup, karena sebelum-sebelumnya kita sudah berusaha maksimal untuk menjalankan rencana kita, tapi tetaplah rencana Tuhan yang paling indah. Yakinlah. Tak ada gunanya menyesali keadaan. Tak ada gunanya mengutuk nasib. Tak adanya bermuka masam. Tersenyumlah. Tegapkan langkah. Hidup hanya soal usaha, belajar dan proses. Berusahalah, belajarlah, dan berproseslah hanya itu tugas kita. Hasil biar Tuhan yang menentukan. Asal kita sudah melakukan semuanya dengan cara terbaik kita...
Kenyataan sepahit apapun itu, harus diterima dengan lapang dada. Memang seperti itu adanya, tidak bisa dipungkiri. Soal kenyataan, mungkin nanti saya tulis pada kesempatan lain begitu juga dengan MOVE ON! *okey? Okey?*
Smile up, Enjoy your movement!!
-september, 20th 2012-
Selasa, 11 September 2012
HAPPY TEACHING (Yukk...Ngajar!!)
“Mbak Indah, kapan bisa ngajar Nanda?” –Om Dadut-
“Dinda lesnya malam Senin dan malam Rabu geh mbak...” –Bulik Dwi-
“Mbak Indah, Amel pengin diajarin Bahasa Inggris...” –Bulik Tuti-
“Jadwal nggajiku kapan lagi, Mbak?” –Inez-
“Mbak Indah, kok sekarang jarang ke Darussalam?” –Wulan-
“Mbak, kok udah tidur? Ajari Fisika....!!! -Fitria, adek-
Hoaammm...begitulah secuplik pertanyaan menohok yang sering saya dengar...
Jujur, ingin rasanya bisa lebih banyak membagi ilmu pada anak-anak di sekitar saya, rasanya sangat merasa bersalah ketika menolak mengajari mereka. Bukannya kenapa-kenapa, tapi lagi-lagi saya merasa kewalahan membagi waktu saya. Apalagi ditambah kebiasaan buruk atau lebih tepatnya semacam penyakit yang selalu datang di malam hari, apakah itu?? Yupp... Ngantuk!!! Keinginan untuk bisa melakukan lebih dan rencana-rencana ‘bermanfaat’ pun kandas sudah ketika serangan Ngantuk datang... yah...walo tugas belum terselesaikan, kadang tanpa sadar saya sudah tertidur di meja dan netbook saya masih menyala. Kadang saya juga nggak sadar sudah terkepar di kasur...
Entahlah apa sebabnya, yang membuat saya begitu mudah give up sama ngantuk...*hadeh*
Apapun kebiasaan buruk-penyakit- saya, semangat untuk berbagi ilmu rasanya tak pernah surut. Saya saat ini mengajar privat dan menjadi Sekretaris Bimbingan Belajar LAZIS UNS, yang kegiatan tersebut didominasi oleh anak-anak usia SD...
Selama ini saya melihat bahwa anak-anak di sekitar kampus ataupun di rumah saya memiliki minat belajar yang cukup baik, hanya saja mereka butuh orang-orang yang mau menemani mereka belajar syukur-syukur mengarahkan bakat dan minat mereka. Menurut pengamatan, sebenarnya anak-anak usia SD, SMP maupun SMA hanya butuh TEMAN BELAJAR. Belajar apapun, pelajaran sekolah, softskill, lifeskill termasuk juga belajar tentang hidup.
Karena kesibukan orang tua, tak ada TEMAN BELAJAR dan ‘kecuekan’ lingkungan akan pentingnya belajar, maka mereka pun menjadi anak yang anti belajar. Anak-anak lebih memilih kegiatan yang ‘menyenangkan’ versi mereka, main PS, Tamiya, kongkow –kongkow geje, balapan liar... Hmm...Ironis memang. Keprihatinan ini yang membuat saya begitu menghargai orangtua-orangtua yang antusias meminta anaknya diajari, dan dibuat trenyuh ketika anak-anak itu yang bilang sendiri minta diajari.
Seandainya, orangtua,keluarga dan para pemuda mau sedikit meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak di sekelilingnya belajar maka tak akan ada anak yang melakukan hal-hal negatif yang sering dikeluhkan orang tua terhadap anak-anaknya.
Menurut saya, rasanya kontradiktif juga, ketika banyak orang membuat komunitas-komunitas sosial pengajaran dimana-mana namun adiknya, keponakan, anak tetangganya tak terperhatikan belajarnya. Bukankah menolong itu dari yang terdekat? Rasululllah pun mengajarkan untuk bersedekah mengutamakan keluarga atau saudara terdekat yang membutuhkan baru kemudian tetangga? Hmm..Jangan sampai kita dzolim geh... #sedang belajar mengurangi kedzoliman nih.. #
Ketika ilmu dibagikan, dia tidak akan berkurang tapi akan selalu bertambah... seperti halnya amal jariyah. Yah...walaupun hanya mengajari keponakan kita mengeja kata per kata, mengajari anak tetangga berhitung... bagi mereka yang belum paham adalah suatu anugerah ketika dipahamkan . Dan melihat senyum kepahaman mereka adalah imbalan yang tak terungkapkan .
HAPPY TEACHING IN EVERYWHERE..!! Keep Istiqomah!!
-ketika kamu sibuk memyelesaikan urusan orang lain maka Allah akan sibuk menyelesaikan urusannmu-
CERITA MAGANG
September, 1st 2012
At 10.10 p.m
Sudah lama saya tak meyentuh tulis menulis, kangeennn.....mumumumu.... :*
Sebenarnya beberapa minggu terakhir keinginan menulis meledak2, apalagi melihat blog saya yang sepi... rasanya maluuu...
Sebenarnya(lagi) banyak yang terjadi dalam kehidupan saya, mempelajari hal-hal baru...
Seperti dari tanggal 23 Juni-20 Juli 2012 saya magang di Bank Muamalat cabang Solo. Berusaha untuk datang sebelum jam 8, yah...walopun beberapa kali sempat telat. Hehehe. Banyak pengalaman yang didapatkan, walaupun pengalaman yang sesuai bidang saya, Akuntansi, tak terlalu banyak tapi life’s experience lebih banyak memberikan kesan dan pesan seperti, apa yang dipelajari di bangku kuliah tak selamanya berlaku mutlak, di tempat kerja membutuhkan sesuatu yang aplikatif. Selain itu, cara efektif untuk BERKOMUNIKASI adalah banyak MENDENGAR terlebih dulu, apapun isi pembicaraannya tetap jadilah pendengar yang baik dan tatap matanya dengan senyum seperlunya . Belajar membina hubungan itu IMPORTANT! Tapi bukan berarti menjadi munafik...
Untuk tips buat temen-temen yang mau magang, bersikaplah sopan dan nggak sok tahu pada karyawan, dengarkan apa yang diajarkan, jangan malu bertanya kalo ada yang nggak tahu kalo nantinya ada kesalahan ya wajarlah, namanya juga belajar...asal gak fatal aja Di akhir kegiatan magang, disarankan juga memberi kenang-kenangan, gak harus mahal tapi berkesan... misalnya terakhir magang kami bagi2 waffle mungil+ucapan terimaksih ke semua karyawan(kecuali security, hehehe) simple but sure... atau bisa juga memberi vandel, jam dinding atau yang lain... intinya ucapan terimakasih walo itu tak seberapa dan tentunya belum bisa membayar ilmu yang didapat selama magang.. setidaknya ada pengingat sederhana disana.
Be Nice Person in everywhere you stay... :D
Senin, 28 Mei 2012
SEPASANG KAKEK-NENEK....
(9/5)Terpaku melihat sepasang suami istri berusia sekitar 60-70 tahun. Patutlah kita memanggilnya sepasang kakek-nenek. Mereka berjalan pelan bergandengan tangan keluar dari Toko Petra, sebuat toko bahan kerajinan di Kalirangan. Yah..saya juga dari toko tersebut untuk membeli perlengkapan jilbab handmade#pkm#. Saya kira mereka berdua akan naik becak yang stand by di depan toko, owhh..ternyata tidak! Menuju ke Kijang Inova hijau pupus dan bersopir, si nenek masuk ke dalam mobil, si kakek yang bertopi#necis tapi lembut# tidak langsung masuk tapi mengarahkan mobilnya keluar dari parkiran tepi jalan seperti sudah terbiasa... Walaupun disana ada tukang parkir#tapi tukang parkirnya agak lola datengnya telat.hehehe#
Sekilas saya bener-bener kagum pada pasangan itu, di usia senjanya masih bareng-bareng terus, dan si nenek masih produktif untuk membeli bahan-bahan kerajinan. Saya rasa mereka dulunya orang-orang muda yang bekerja keras untuk investasi hari tua dan memiliki anak yang mudah ‘dikendalikan’. Pengin kalau tua nanti seperti mereka... tetep bersama orang yang kita sayang dan yang penting tetap produktif #walaupun tidak komersial# setidaknya ada hal-hal positif yang dapat jadi contoh semangat untuk anak-cucu...
Rabb, Sang Pemilik Kehidupan
mudahkanlah hamba menuju jalan yang Kau ridhoi dan mencapai kehidupan terbaik...
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Jumat(11/5) saya harus ke Karanganyar untuk suatu keperluan. Saya meihat sepasang kakek-nenek berusia 60-70an yang berjalan tertatih-tatih di tepi jalur lambat, mereka bergandengan, tapi penampilan mereka jauh dari layak. Rasanya kasian melihat mereka. Sepertinya si nenek sudah mengalami gangguan penglihatan tapi si kakek begitu sabar menuntun si nenek menepi untuk beristirahat.... rasanya ingin berhenti sebentar. Tapi saya sudah ditunggu teman di kampus , sepanjang jalan menuju kampus hanya istigfar yang terucap dari bibir ini. Dimana anak-anak mereka? Keluarga mereka? Walaupun mereka seperti itu, hidup dalam keterbatasan kenapa masih saling menerima? Saya pikir, di usia seperti itu mereka sudah pikun. Apalagi di usia mereka tidak ditunjang dengan gizi yang memperburuk kepikunan, berbeda dengan sepasang kakek-nenek yang pertama, mungkin anak-anak mereka membelikan vitamin dan rutin cek kesehatan yang berdampak memperlambat kepikunan. Tapi kakek-nenek kedua masih terlihat seia-sekata?? Saya rasa itu akumulasi dari tindakan bawah sadar yang dilakukan ketika mereka masih muda. Yang tanpa kita sadari telah menjadi habit di sepanjang kehidupan...
The conclusion are, manfaatkan masa muda sebaik mungkin, seproduktif mungkin. Untuk investasi di hari tua. Sebagai seorang yang masih single 20% dari pendapatan bulanan harusnya ditabung, tidak kita habiskan untuk konsumsi... dan setia pada pasangan!!#nantinya...#
Pernah denger kalimat ini? Kecil dimanja, Muda Kaya Raya, Mati Masuk Surga... #sapa yang nggak pengin?#
Selasa, 27 Desember 2011
SEKOLAH PINTAR MERAPI, Penuh Inspirasi....
December 25th 2011
Bagian dari tahun ini. Akhir tahun. Ditengah himpitan, dirapatnya tugas, dikeringnya dompet. Hauah. Terbersit untuk melanjutkan misi yang tertunda.
Silaturhmi ke Sekolah Pintar Merapi
(sekolah non formal yang didirikan untuk sarana pembangkitan semangat anak-anak yang terkena bencana letusan Merapi beberapa waktu lalu)
Ini berawal dari keinginan membuat ASRAMA UNTUK ANAK-ANAK SD BELAKANG KAMPUS,
Berawal dari melihat semangat anak-anak untuk belajar, betapa antusiasnya mereka belajar. Melihat bahwa tutur kata mereka belumlah baik, tingkah laku mereka belum sempurna. Melihat begitu banyaknya potensi di diri mereka, yah...walo semuanya masih abstrak. Belum jelas. Tapi mereka butuh orang-orang yang mau membimbing penemuan potensi mereka, menuntun setiap langkah menuju asa mereka. Karena kondisi keluarga, orang tua kadang hanya memberikan sebagian hak anak, yaitu nafkah. Apa mau dikata, pendidikan dan pemahaman setiap orang tua berbeda dan kebanyakan mereka adalah kaum marginal, yang hidupnya masih dibawah garis. Mereka kebanyakan juga kaum urban. Coba mengadu nasib di kota kecil ini, Solo.
Walau ada beberapa anak yang sudah baik dan berada di keluarga yang baik juga, baik secara materi maupun pendidikan. Tapi saya mencoba mengeneralisasi,agar kita segera punya solusi untuk masalah-masalah seperti ini. Hmm..bahkan ada anak-anak kelas 6 SD yang perilakunya seperti orang dewasa: miras, tindik, tatoan. Saya belum bertemu dengan anak-anak tersebut, tapi saya mendengar cerita dari warga dan adek-adek binaan di LAZIS UNS. Miris.
Mahasiswa dituntut untuk lulus cepat, IP bagus, dapat kerjaan mapan. Mahasiswa disibukkan dengan tugas dan ujian yang datang bertubi-tubi, rasanya sudah tak ada ruang untuk bernafas. Kalau sempat bernafas, itu pun untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang masa depan mereka. Itu tak masalah. Itu baik. Karena memang sekarang zamannya seperti itu. Tapi sebagai mahasiswa kita tidak boleh memiliki idealisme pragmatis, yang hanya berkutat pada pemahaman-pemahaman yang sulit dicerna oleh realita. Mahasiswa seharusnya banyak melihat sekitar, karena mereka nantinya akan terjun ke masyarakat... Yah..tembok kampus terlalu kokoh untuk melihat sekitar. Padahal masyarakat excited sekali kalau mahasiswa mau mendatangi mereka, dalam arti bikin acara yang mempartisipasikan mereka.
Bingung dengan tulisan saya?? Bertele-tele? Hehehehe. Maklum,saya sedang belajar. #ngeles#. Pada intinya begini, kita perlu mengadakan asrama ataupun semacam pendampingan yang intesif pada anak-anak belakang kampus UNS sebagai upaya mengembangkan potensi mereka, memupuk mimpi-mimpi mereka, menuntun mereka menjadi anak yang mandiri, religius, berkarakter dan nasionlis. Implikasinya ketika mereka dewasa, akan memiliki bahan yang cukup untuk perbaikan keluarga mereka. Jangka panjangnya rantai kemiskinan di sekitar kampus akan terkurangi. Mahasiswa sebagai relawan, instruktur dan manajerial pendampingan akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Jadi ketika mereka sudah tidak di lingkungan kampus, bekerja di suatu tempat... rasa peduli mereka masih ada. Dan berusaha menebar kebaikan untuk lingkungan dimana mereka tinggal. Kalau itu benar-benar dapat terealisasikan, subhanallah sekali.. :)
Kembali ke SEKOLAH PINTAR MERAPI di Posko Umbulharjo,Cangkringan, Kaliurang
Kami, saya, Lala(P.Biologi 09), Anna(P.Akuntansi 09), Evi(P.Akuntansi 09), Vety(FH 09), Via(FH 09) dan Mas Faizal(FT 07) berangkat sekitar pukul 7.20, menuju UNY untuk berangkat bareng dengan relawan SPM(Sekolah Pintar Merapi). Oia kami kesana bukan atas nama organisasi tertentu, karena kami hanyalah orang-orang yang pengin nimba ilmu, cari pengalaman, refreshing... Hohoho.
Keberangkatan kami ditemani dengan cuaca yang tidak mendukung, hujan, panas, hujan, panas, hujan lagi...(bolakbalik pake-lepas mantol). Apapun itu, pada intinya kami mendapat beberapa pelajaran yang berharga, dan harus ditulis agar tidak lupa. Hauah. Pelajaran itu kami dapat dari mas Pidi Winata(direktur SPM, UNY), mb Uzi, mb Putri, mb Lilin, Mb Esti,mb Aulia, mas Syahrir, pokoknya relawan SPM semua dah.. beberapa pembelajaran itu, antara lain:
1. Untuk memulai suatu program, yang dilakukan pertama kali adalah KLAIM. Sebuah pengakuan adanya suatu program, pasang spanduk, pamflet yang banyak. Intinya woro-woro dulu. Masalah teknis menyusul. Tak perlu menunggu semuanya sempurna baru memulai. Ini saran untuk kegiatan sosial seperti SPM.
2. Penentuan tempat. Bisa dilakukan di rumah warga. Anak-anak berkumpul sedikit demi sedikit, kadang mereka juga belajar di bawah pohon dimana pamflet itu ditempel...
3. Waktu bisa dilakukan 2 hari sekali atau fleksibel
4. Kegiatan-kegiatan yang direncanakan(dan beberapa sudah berjalan), yaitu: Sanggar Bintang, Sanggar Seni, Kelompok Usaha, Rumah Pintar, Sekolah Olahraga(Sepakbola), Jurit malam, Pengajian ibu-ibu
5. Pemberian nama program, yang simpel dan nyeleneh, begitu juga dengan logo-logonya.
6. Butuh tim dengan orang yang rada nyeleneh, gila, sedikit liar, maksudnya orang-orang yang out of the box’s mindest. Kalaupun tidak, setidaknya saling melengkapi... Berproses. :D
7. Hal yang sedikit terlupakan adalah masalah OLAHRAGA, saya menjadi terinspirasi bikin pertandingan sepakbola/futsal untuk anak-anak binaan LAZIS, tempat dimana saya berkecimpung. Pasti seru!! Hehehe. Yah..karena saya melihat mereka begitu antusias maen bola(di suatu sore;red)
8. Pembinaan untuk warga sekitar, seperti pengajian. Ini mungkin bisa menjadi lahan dakwah untuk organisasi keagamaan di kampus. Tapi kalo temen-temen dari LAZIS mungkin mau mengadakan saya kira tak ada salahnya...:)
9. Ternyata banyak juga orang-orang yang peduli dan bergerak di lingkup yang hampir sama, anak-anak. Di kampus lain. Di tempat lain. Walopun Dusbin-dusbin organisasi internal banyak namun saya lihat kurang termanajemen(maaf, untuk yang punya dusbin). Maksud saya, untuk kegiatan sosial seperti pendampingan butuh keseriusan dan keberlanjutan. Yah..kalo bisa itu berdiri secara indepedent, agar bisa menentukan nasibnya sendiri. Tapi bukan berarti tidak bekerjasama.
10. Berusaha untuk kerjasama dengan pihak-pihak yang berkaitan, agar dapat share program
11. BERANI!!!
diskusi dengan teman-teman SPM
Ada juga cerita dari Mas Pidi tentang seorang ibu unik dan nyeleneh, yang menjadi ibunya anak-anak jalanan, buka usaha warung makan. Tapi dia mampu menyekolahkan anak-anak jalanan tersebut. Mereka makan juga disitu, ibu tersebut pun tidak minta balas materi dari anak-anak tersebut. Subhanaallah. Yah..untuk berbagi tak harus punya banyak, dengan yang sedikit pun sudah bermakna.
Mungkin, beberapa orang akan berkata keinginan saya terlalu tinggi, idealis atau biasa-biasa saja?? Tak apa. Tak ada jaminan juga kalo keinginan saya akan menjadi kenyataan. Saya hanya melihat, menulis dan melakukan usaha untuk sedikit perbaikan. Kalaupun keinginan untuk Asrama atau pendampingan yang sejenisnya sekarang ini belum bisa terealisasikan, mungkin besok-besok adek-adek tingkat atau orang lain nun jauh disana yang mewujudkannya... :)
Yah..idealisme adalah sebuah proses. Ketulusan itu pun juga proses. Tak ada jaminan kita akan menjadi idealis dan tulus selamanya, tapi kalo kita tidak mulai dari sekarang, kapan kita akan berproses??? Time is limiit guys... :D
mampir @ Pecel Lele Lela...yummy...:D
Pengin tahu lebih banyak tentang Sekolah Pintar Merapi? Look at http://www.sekolahpintarmerapi.org/
Bagian dari tahun ini. Akhir tahun. Ditengah himpitan, dirapatnya tugas, dikeringnya dompet. Hauah. Terbersit untuk melanjutkan misi yang tertunda.
Silaturhmi ke Sekolah Pintar Merapi
(sekolah non formal yang didirikan untuk sarana pembangkitan semangat anak-anak yang terkena bencana letusan Merapi beberapa waktu lalu)
Ini berawal dari keinginan membuat ASRAMA UNTUK ANAK-ANAK SD BELAKANG KAMPUS,
Berawal dari melihat semangat anak-anak untuk belajar, betapa antusiasnya mereka belajar. Melihat bahwa tutur kata mereka belumlah baik, tingkah laku mereka belum sempurna. Melihat begitu banyaknya potensi di diri mereka, yah...walo semuanya masih abstrak. Belum jelas. Tapi mereka butuh orang-orang yang mau membimbing penemuan potensi mereka, menuntun setiap langkah menuju asa mereka. Karena kondisi keluarga, orang tua kadang hanya memberikan sebagian hak anak, yaitu nafkah. Apa mau dikata, pendidikan dan pemahaman setiap orang tua berbeda dan kebanyakan mereka adalah kaum marginal, yang hidupnya masih dibawah garis. Mereka kebanyakan juga kaum urban. Coba mengadu nasib di kota kecil ini, Solo.
Walau ada beberapa anak yang sudah baik dan berada di keluarga yang baik juga, baik secara materi maupun pendidikan. Tapi saya mencoba mengeneralisasi,agar kita segera punya solusi untuk masalah-masalah seperti ini. Hmm..bahkan ada anak-anak kelas 6 SD yang perilakunya seperti orang dewasa: miras, tindik, tatoan. Saya belum bertemu dengan anak-anak tersebut, tapi saya mendengar cerita dari warga dan adek-adek binaan di LAZIS UNS. Miris.
Mahasiswa dituntut untuk lulus cepat, IP bagus, dapat kerjaan mapan. Mahasiswa disibukkan dengan tugas dan ujian yang datang bertubi-tubi, rasanya sudah tak ada ruang untuk bernafas. Kalau sempat bernafas, itu pun untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang masa depan mereka. Itu tak masalah. Itu baik. Karena memang sekarang zamannya seperti itu. Tapi sebagai mahasiswa kita tidak boleh memiliki idealisme pragmatis, yang hanya berkutat pada pemahaman-pemahaman yang sulit dicerna oleh realita. Mahasiswa seharusnya banyak melihat sekitar, karena mereka nantinya akan terjun ke masyarakat... Yah..tembok kampus terlalu kokoh untuk melihat sekitar. Padahal masyarakat excited sekali kalau mahasiswa mau mendatangi mereka, dalam arti bikin acara yang mempartisipasikan mereka.
Bingung dengan tulisan saya?? Bertele-tele? Hehehehe. Maklum,saya sedang belajar. #ngeles#. Pada intinya begini, kita perlu mengadakan asrama ataupun semacam pendampingan yang intesif pada anak-anak belakang kampus UNS sebagai upaya mengembangkan potensi mereka, memupuk mimpi-mimpi mereka, menuntun mereka menjadi anak yang mandiri, religius, berkarakter dan nasionlis. Implikasinya ketika mereka dewasa, akan memiliki bahan yang cukup untuk perbaikan keluarga mereka. Jangka panjangnya rantai kemiskinan di sekitar kampus akan terkurangi. Mahasiswa sebagai relawan, instruktur dan manajerial pendampingan akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Jadi ketika mereka sudah tidak di lingkungan kampus, bekerja di suatu tempat... rasa peduli mereka masih ada. Dan berusaha menebar kebaikan untuk lingkungan dimana mereka tinggal. Kalau itu benar-benar dapat terealisasikan, subhanallah sekali.. :)
Kembali ke SEKOLAH PINTAR MERAPI di Posko Umbulharjo,Cangkringan, Kaliurang
Kami, saya, Lala(P.Biologi 09), Anna(P.Akuntansi 09), Evi(P.Akuntansi 09), Vety(FH 09), Via(FH 09) dan Mas Faizal(FT 07) berangkat sekitar pukul 7.20, menuju UNY untuk berangkat bareng dengan relawan SPM(Sekolah Pintar Merapi). Oia kami kesana bukan atas nama organisasi tertentu, karena kami hanyalah orang-orang yang pengin nimba ilmu, cari pengalaman, refreshing... Hohoho.
Keberangkatan kami ditemani dengan cuaca yang tidak mendukung, hujan, panas, hujan, panas, hujan lagi...(bolakbalik pake-lepas mantol). Apapun itu, pada intinya kami mendapat beberapa pelajaran yang berharga, dan harus ditulis agar tidak lupa. Hauah. Pelajaran itu kami dapat dari mas Pidi Winata(direktur SPM, UNY), mb Uzi, mb Putri, mb Lilin, Mb Esti,mb Aulia, mas Syahrir, pokoknya relawan SPM semua dah.. beberapa pembelajaran itu, antara lain:
1. Untuk memulai suatu program, yang dilakukan pertama kali adalah KLAIM. Sebuah pengakuan adanya suatu program, pasang spanduk, pamflet yang banyak. Intinya woro-woro dulu. Masalah teknis menyusul. Tak perlu menunggu semuanya sempurna baru memulai. Ini saran untuk kegiatan sosial seperti SPM.
2. Penentuan tempat. Bisa dilakukan di rumah warga. Anak-anak berkumpul sedikit demi sedikit, kadang mereka juga belajar di bawah pohon dimana pamflet itu ditempel...
3. Waktu bisa dilakukan 2 hari sekali atau fleksibel
4. Kegiatan-kegiatan yang direncanakan(dan beberapa sudah berjalan), yaitu: Sanggar Bintang, Sanggar Seni, Kelompok Usaha, Rumah Pintar, Sekolah Olahraga(Sepakbola), Jurit malam, Pengajian ibu-ibu
5. Pemberian nama program, yang simpel dan nyeleneh, begitu juga dengan logo-logonya.
6. Butuh tim dengan orang yang rada nyeleneh, gila, sedikit liar, maksudnya orang-orang yang out of the box’s mindest. Kalaupun tidak, setidaknya saling melengkapi... Berproses. :D
7. Hal yang sedikit terlupakan adalah masalah OLAHRAGA, saya menjadi terinspirasi bikin pertandingan sepakbola/futsal untuk anak-anak binaan LAZIS, tempat dimana saya berkecimpung. Pasti seru!! Hehehe. Yah..karena saya melihat mereka begitu antusias maen bola(di suatu sore;red)
8. Pembinaan untuk warga sekitar, seperti pengajian. Ini mungkin bisa menjadi lahan dakwah untuk organisasi keagamaan di kampus. Tapi kalo temen-temen dari LAZIS mungkin mau mengadakan saya kira tak ada salahnya...:)
9. Ternyata banyak juga orang-orang yang peduli dan bergerak di lingkup yang hampir sama, anak-anak. Di kampus lain. Di tempat lain. Walopun Dusbin-dusbin organisasi internal banyak namun saya lihat kurang termanajemen(maaf, untuk yang punya dusbin). Maksud saya, untuk kegiatan sosial seperti pendampingan butuh keseriusan dan keberlanjutan. Yah..kalo bisa itu berdiri secara indepedent, agar bisa menentukan nasibnya sendiri. Tapi bukan berarti tidak bekerjasama.
10. Berusaha untuk kerjasama dengan pihak-pihak yang berkaitan, agar dapat share program
11. BERANI!!!
diskusi dengan teman-teman SPM
Ada juga cerita dari Mas Pidi tentang seorang ibu unik dan nyeleneh, yang menjadi ibunya anak-anak jalanan, buka usaha warung makan. Tapi dia mampu menyekolahkan anak-anak jalanan tersebut. Mereka makan juga disitu, ibu tersebut pun tidak minta balas materi dari anak-anak tersebut. Subhanaallah. Yah..untuk berbagi tak harus punya banyak, dengan yang sedikit pun sudah bermakna.
Mungkin, beberapa orang akan berkata keinginan saya terlalu tinggi, idealis atau biasa-biasa saja?? Tak apa. Tak ada jaminan juga kalo keinginan saya akan menjadi kenyataan. Saya hanya melihat, menulis dan melakukan usaha untuk sedikit perbaikan. Kalaupun keinginan untuk Asrama atau pendampingan yang sejenisnya sekarang ini belum bisa terealisasikan, mungkin besok-besok adek-adek tingkat atau orang lain nun jauh disana yang mewujudkannya... :)
Yah..idealisme adalah sebuah proses. Ketulusan itu pun juga proses. Tak ada jaminan kita akan menjadi idealis dan tulus selamanya, tapi kalo kita tidak mulai dari sekarang, kapan kita akan berproses??? Time is limiit guys... :D
mampir @ Pecel Lele Lela...yummy...:D
Pengin tahu lebih banyak tentang Sekolah Pintar Merapi? Look at http://www.sekolahpintarmerapi.org/
Langganan:
Postingan (Atom)








