Minggu, 05 Juni 2011

PENDIDIKAN FINANSIAL, isn't important??

Sudah cukup lama saya membaca buku Rich Dad Poor Dad-nya Robert Kiyosaki. Hampir semua orang terinspirasi untuk mengadakan pendidikan financial setelah membaca ini. Dan mungkin ada beberapa orang yang menyesal, kenapa tidak dari dulu saya diajari mengelola uang? Penyesalan itu tak akan berguna kecuali kita berusaha belajar financial saat ini juga walaupun terkesan terlambat. Akan berguna juga jika tidak menurunkan penyesalan kepada anak-anak kita atau orang disekitar kita yang masih muda.

Pendidikan financial itu penting, PENTING SEKALI malahan! Karena dari sanalah ujung tombak dari keteraturan hidup. Orang yang memiliki banyak uang pun akan keteteran apabila tidak mempunyai pengetahuan tentang pengelolaan financial,hmm…apalagi buat mereka yang serba kekurangan, keadaan akan semakin parah.
Dengan adanya pendidikan financial sedari kecil, maka anak akan belajar memanfaatkan uang sebaik mungkin. Tidak menjadi follower konsumerisme dan hedonisme seperti sekarang ini, walaupun hal tersebut sering’menyerang’ orang dewasa tapi tak sedikit juga anak-anak SD juga menganut hal ini. Dapat dilihat, bahwa anak-anak SD bawaannya sudah BlackBerry,Ipad dan sebagainya. Tak jarang anak-anak SMP sudah rajin hangout ke mall-mall, shopping2, pokoknya hal-hal yang menunjukkan sikap konsumerisme.

Pendidikan financial ini ada untuk mengajarkan bagaimana anak me-manage uang mereka. Selain itu, anak diharapkan tidak menjadi budak uang. Apa-apa dilakukan demi uang. Karena sebenarnya kitalah yang mengendalikan uang, bukan sebaliknya. Dengan pendidikan finansial, anak diharapkan mempunyai gambaran tentang penghasilan. Anak tidak hanya diajak berwirausaha tapi juga berinvestasi. bekerja sesuai dengan pekerjaan yang mereka cita-citakan sedari kecil itulah yang mesti kita dukung.

Sebenarnya program-program pendidikan financial untuk anak sudah banyak didengung-dengungkan. Namun banyak dari program tersebut yang hanya mampu dijangkau oleh kalangan menengah ke atas. Yah..biaya pendidikan yang tak sedikit. Melihat fenomena ini, apakah anak-anak yang menengah ke bawah tak berhak mendapat pendidikan financial? Atau anak-anak itu akan mengulang cerita ‘ayah yang miskin’nya Kiyosaki?

Saya pikir,
perlu pendidikan financial terstruktural di sekolah.

Tak perlu dimasukkan kurikulim-walaupun sebaiknya begitu- cukup pengajaran seminggu sekali atau sebulan sekali. Terpetik untuk menyeriusi hal ini. Yahh..semoga pemikiran saya ini tak hanya menggelembung di udara tapi juga menggumpal menjadi awan dan berhenti pada titik tertinggi. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar