Kamis, 23 Juni 2011

Easy To Come, Easy To Go....

Pagi ini tidak seperti biasanya papa dan mama begitu sibuk. Mereka terburu-buru memasukkan barang-barang ke bagasi.

“ Key berangkat sendiri ya!” kata mama sambil menjinjing koper ke luar.
“Papa nggak ke kantor?” tanyaku
“Papa cuti dulu. Mama sama papa mau ke Depok jenguk Jessi. Radang lambungnya kambuh” jawab mama pelan.

Di wajahnya terlukis penyesalan, membiarkan anak sulungnya yang sering sakit-sakitan tinggal sendirian di Depok.
Kubelai lembut bahu orang yang kucintai ini.

“Aku sarapan dulu Ma!”

Selangkah aku berbalik ke dapur ..

“ Mama nggak masak. Sarapan di sekolah aja ya!”
Apa? Mama nggak masak? Hiks..hiks..padahal aku berharap pagi ini menyantap nasi goreng bikinan mama. Tapi mau gimana lagi, nggak ada alasan buat marah kalo keadaannya kayak gini.

“ Aku langsung ke sekolah aja deh,” kataku pasrah.

Kuhampiri papa yang lagi manasin mobil, kucium tangannya, begitu juga dengan mama.
Seratus meter jarak yang harus kutempuh untuk sampai ke halte. Uh...jalan dengan perut keroncongan membuatku kelihatan kusut. Kulirik Gucci, 6.40, langkah kupercepat. Yah..butuh 15 menit untuk sampai di sekolah tanpa hambatan!

Din...din...din...

Suara klakson motor membuatku syok. Buru-buru kututup telinga. Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Hiks...lebai deh :)

“ Hai, Keysa kan?”
Seseorang menepuk punggungku dan sesuatu yang buruk tidak terjadi –ya...untuk beberapa saat sih! Kubuka tanganku yang selama beberapa detik yang lalu menutup telinga.

“ I...iya...” jawabku terbata-bata.
Sesosok cowok nangkring di atas motor Tiger ada didepanku dan dia menyapaku! Siapa ya? Saraf sensorikku menebak-nebak...

“ Gue Rey, anak XII IPA 4!”

Rey? Hm..
Oh ya, Rey! Cowok cool, bertampang Indo itu temen sekelasku waktu MOS dulu.
“ Bareng yuk Key!”

Dengan wajah innocentnya dia ngajak aku berangkat bareng. Setidaknya aku tidak telat dan nggak desak-desakan di angkot. Thanks God.

“ Nggak apa-apa nih?” tanyaku berbasa-basi.
“ Ya nggaklah,” jawabnya datar.

Segera aku nangkring di jok belakang. Aku tak pernah membayangkan bakalan diboncengin sama cowok Indo berantakan ini. Sudah lama aku tak berbicara dengannya, terakhir waktu perpisahan MOS dulu. Itu pun cuma ber-say good bye setelah itu dia seperti ditelan bumi entah kemana, tapi aku denger-denger sih dia kerapkali dipanggil BK,yah...apalagi kalo bukan gara-gara bolos. Dasar cowok aneh!

Kami nggak ngobrol sedikit pun. Rey fokus dengan jalan yang makin ramai. Sedangkan aku sibuk mengingat masa-masa MOS dulu. Rey sempet nantang senior berantem. Tapi untung sempet dilerai oleh seorang guru yang kebetulan lewat.
Dua puluh menit kita jalan, tapi kok nggak nyampai-nyampai ya? Ternyata aku melewati jalur yang nggak biasanya. Seharusnya di perempatan tadi belok kanan, tapi ini kok lurus, ini kan jalan ke Imam Bonjol, hampir ke pusat kota. Jangan-jangan... Mungkin dia ada perlu ke suatu tempat dulu. Sekarang lebih baik aku diam, berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan diriku.

Rey menghentikan Tigernya di depan coffee shop. Aku sama sekali nggak tau apa maksud dia berhenti di sini, semoga dia nggak ngajak aku bolos. Semoga! Setelah memarkirkan motornya dia masuk begitu aja ke dalam tanpa mempedulikan aku. Kutatap lurus pintu kaca bertuliskan’OPEN 24 HOURS’.

Beberapa menit berlalu dan aku masih berdiri disini nggak percaya dengan yang aku alami pagi ini, ketemu cowok berharap dianterin ke sekolah, eh...malah dianya nongkrong dengan santainya di coffee shop. Entah apa yang ada di kepalanya .

“ Sampai kapan loe berdiri disitu?”
Tiba-tiba Rey udah ada di depanku, suaranya sedikit nge-bass. Dengan muka merah padam aku berbalik, menjauh darinya. Aku harus nyari taksi atau apa pun yang bisa mengantarkan aku ke sekolah. Aku harus ke sekolah! Aku nggak mau diajak bolos!

“ Key percuma loe ke sekolah, udah telat. Paling loe disuruh balik lagi!” kata Rey yang seakan-akan membaca pikiranku. Hm...tapi bener juga sih, kalo udah telat bakalan disuruh pulang. Tapi peduli amat, pokoknya aku mo nyari taksi. Terserah mau kemana. Aku ilfil sama Rey!
“ Key berhenti!”

Tangan Rey memegang pergelangan tanganku. Kuat. Aku tak dapat melepasnya.
“Rey aku mau pulang. Aku nggak mau sama kamu!”
“ Ikut aku bentar napa sih?!”
Rey tak peduli. Ia terus menarikku.
“ GUE BENCI COWOK KASAR KAYAK LOE!!”

Dia berbalik, menatapku dalam. Didorongnya pintu kaca bertuliskan ‘OPEN 24 HOURS’. Dia membawaku ke sebuah meja kosong di dekat jendela. Sudah tersaji dua cangkir kopi disana.

“Key duduk!”
“Eh Rey, gue bukan anjing piaraan loe yang bisa loe suruh-suruh!”
“Key gue minta loe duduk!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar