“……..”
Ayah tetap diam. Menatap lurus ke arah pintu, seakan-akan menunggu kedatangan orang lain. Apa yang beliau pikirkan?
“ Aku bingung Yah, aku tidak tahu mesti gmana lagi. Gajiku di radio tak menutup semua biaya semesteranku. Ibu juga mau pergi ke Riau!”
“Nanti juga ada rezeki. Percayalah pada Alloh. Rezeki itu sudah diatur dalam Lahul Mahfuzh”
“Tapi bagaiman caranya, Yah? Bukankah kalau rezeki itu masih di langit, kita harus berusaha menurunkannya?”
Aku semakin kesal! Tak pernah aku semarah ini. Aku sudah berada pada titik didihku.
“Rezeki itu ndak nggak akan tertukar. Ikhlas saja.”
“Bukan masalah tertukar atau tidak Yah, bukankah Allah berfirman, tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mau mengubahnya sendiri? Itu berarti kita harus berusaha mengubah nasib kita sendiri, Yah…..”
“…………..”
Ayah beranajak pergi begitu saja.
“Ayah!!!”
Maaf. Aku tak bermaksud menggertak. Tapi aku tak bisa membiarkan senja ini tanpa hasil.
“ Apa itu namanya kepala keluarga? Membiarkan anak dan istrinya bekerja sendiri?
Apa itu yang diajarkan oleh Islam? Apa Rasullullah membiarkan keluarganya kelaparan tanpa alasan syar’i? Jawab Ayah!!! Aku tak ingin marah Yah… tapi aku sudah tidak kuat lagi, melihat ibu harus pergi. Sedang ayah hanya bilang pasrah dan ikhlas tanpa bertindak apa-apa? Ayah hanya menerapkan setengah-tengah dari sunnah Rasul. Tidak kaffah!!”
Sekilas Ayah berbalik dan menatapku nanar. Amarah yang aku tahan bertahun-tahun ini meledak-ledak tak karuan. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran Ayahku. Prinsip hidup yang dipegang Ayahku. Apapun itu, aku benar-benar tak bisa menerima Ayah. Tingkat kesabaranku sudah habis.
Sejak saat itu. Aku tak pernah berbicara lagi dengan Ayah. Berusaha mengarungi hidupku sendiri. Tanpa melibatkan Ayah, ya…aku rasa begitu. Tertancap kuat dalam hatiku.aku harus berubah! Tak bisa mengandalkan Ayah. Kelangsungan hidupku tak akan kugantungkan padanya. Kugantungkan hidupku pada Sang Kuasa, bukan pada makhluk yang tak berkuasa.
****
Menatap Danau Lagunita di senja musim semi seperti ini membuatku tenang. Pikiranku melayang ke enam tahun lalu. Kalau tak ada Ayah, mungkin aku tak ada disini. Ayah, yang mengajarkanku tentang ketegaran, kerja keras dan kemandirian dan keikhlasan sehingga aku lebih kuat. Stanford University menjadi jawaban atas semua ini. Walau ibu, tak sempat melihatku disini, tapi aku dapat ber-birul walidain dengan Ayah. Maafkan aku Rabb, atas kepongahanku selama bertahun-tahun. Aku tahu semua itu sudah suratan takdir. Toh, ayah tak pernah menyuruh aku berbuat maksiat, hanya mengajarkan aku lebih tegar dengan caranya sendiri. Hanya soal prinsip.
Ya… semua akan indah pada waktunya,
“Assalamualaikum…Ayah….”
“Iya nduk…”
Suara disembarang terasa berat. Suara yang sebenarnya aku rindukan.
“Yah..maafkan Nanda, Nanda…”
“….Nanda sayang Ayah…”
Tak kuasa aku membendung semua airmata ini. Dalam dekap lelaki pilihanku, Muhammad Firmansyah, yang Insyaallah ibu tak akan kecewa atas pilihanku.
Bu, aku harap engkau tenang disana.
critane nggawe dw ndah? aq ug raiso nangkep inti critane.. -,-
BalasHapushahahaha.
BalasHapusiya i...
lha sok sastra gtu...
tapi opo malah keblinger yak?gegege.
part 1 udah?
itu bikinnya ndadak ug. lha m bt lmba je...
aq bngunge ning bagian kalimat paling trakhir.. kok ngrti2 ibu e mninggal.. -,-
BalasHapuskan dia pnya sakit tuberkolosis ceritanya...
BalasHapushohoho.
di awal diceritain ug..
:)
manta juga tulisanmu ndah.....n_n
BalasHapusmakasih yak...
BalasHapusmga bisa better than before