“ Nduk, ibu minggu depan ke Riau.. ”
Riau?
“ Tak biasanya ibu punya rencana pergi jauh. Wah…aku nitip kain songket ya bu! Hehehe.”
“ Memangnya ibu mau jalan-jalan? Ibu mau kerja nduk….!” Ibu tersenyum tipis.
Glek! Kerja? Apa aku tak salah denger? Perempuan yang hampir mendekati angka 50 tahun ini, masih berniat mencari nafkah untuk keluarga Padahal tuberkolusis sudah mulai mengerogoti tubuhnya. Akan kerja apa ibu di Riau? Hanya mampu menatap dalam perempuan didepanku.
“ Ouwhh…iya…nggak papa Bu..”
Itu kata yang meluncur begitu saja dari bibirku. Bukannya menahannya untuk pergi, malah seakan-akan mengizinkannya untuk pergi. Aku tak tahu harus berkata apa, aku tak punya alasan untuk menahannya. Tuberkulosis pun tak yakin dapat meruntuhkan niatnya, tuntutan hidup telah membuatnya bertekad. Suami yang tak punya penghasilan tetap. Empat anak yang semuanya butuh biaya. Aku sebagai anak pertama, merasa sangat bersalah, merasa tak punya harga diri. Seharusnya ini menjadi tanggung jawabku. Tapi..hmm..aku rasa mataku mulai memerah. Aku tak ingin ibu melihat ini semua.
“ Aku ke kamar dulu ya Bu….”
“Iya nduk…. Ibu ndak punya pilihan lain. Ayahmu seperti itu, kamu dan adik-adikmu juga perlu biaya..”
Tercabik-cabik hatiku. Menangis sejadi-jadinya. Apa aku harus melepas kuliahku? Rabb, apa aku egois bila tetap melanjutkan kuliah? Sementara keluargaku merintih. Tapi cita-citaku untuk menjadi sarjana masih menggantung tinggi di awan…
Ayah!!! Arrggghhh…aku benar-benar jadi marah dengan orang itu. Dia yang membuat keluargaku seperti ini. Seandainya saja, ayahku mau bekerja lebih maksimal lagi keluarga tak akan jadi seperti ini. Ibu mesti menjadi tulang punngung keluarga, aku harus nyambi sana sini, pagi kuliah, siang siaran, malam jaga warnet. Hanya untuk mencari penambal kebutuhan. Ayahku hanya seorang guru agama di madrasah ibtidiyah yang tahun depan akan ditutup karena tak ada murid. Gajinya hanya cukup makan untuk seminggu, lalu 3 minggu berikutnya siapa yang akan kasih makan?
Ibu. Beliau yang membanting tulang demi kami. Membiaya kami berempat. Dan seorang suami. Bekerja sebagai buruh pabrik. Gajinya pun tak seberapa, Mengorbankan kesehatannya demi sesuap nasi. Demi sekolah anak-anaknya. Walau ibu orang bertemperamen tinggi dan suka mengeluh tapi aku yakin beliau memiliki ketulusan yang tak terhingga.Satu pesan ibu yang selalu kuingat, pilihlah pendamping hidup yang bertanggung jawab. Yang tak hanya pintar akan ilmu akhirat tapi juga dunia.
*****
Senja merona. Memicingkan semburat kemerahan. Padi meliuk-liuk pelan terkena angin. Begitu juga dengan jilbabku yang melambai-lambai tertempa angin sore. Tatapanku tak beranjak dari kawanan burung gereja yang bertebaran di pematang ini. Senja yang indah. Cukuplah menjadi teman saat aku galau seperti ini.
Rabb, rasanya aku tak tahan melewati semua badai ini. Hanya kepada-Mu kupasrahkan seluruh hidup dan matiku. Uang semester yang menunggak, ibu yang mau pergi, Ayah yang hanya diam. Rabb, bukankah Kau berjanji akan menolong hamba-hambamu yang bertawakal? Seharusnya aku tak meragukan-Mu Rabb… Seharusnya.
Walau bagaimanapun aku harus menjadi perempuan kuat. Sekuat ibuku. Aku hanya ingin melihat senyumnya mengembang. Yah…tentang mimpiku untuk meraih gelar Master of Business Administration. di Stanford University.
Aku berdiri, berjalan gontai pulang ke rumah. Mataku masih merah. Sembab. Aku harus berbicara dengan ayah soal ini. Aku benar-benar nggak kuat, ini soal hidup dan matiku di bangku kuliah. Aku tak bisa membiarkan ibu terbatuk-batuk menahan kesakitan di Riau, dimana naluriku sebagai seorang anak?
“ Yah…ehhmmm…!”
Aku menahan nafas berat untuk memulai pembicaraan senja ini. Aku tak pernah berbicara berdua dengan Ayah soal kuliah, karena aku tahu jawabannya sudah bisa ditebak. Tapi untuk sore ini, perkecualian. Bagaimanapun beliau adalah ayahku, yang mesti tahu keadaanku.
“ Ada apa?”
Singkat.
“Aku sudah melakukan penundaan pembayaran semesteran sampai tiga kali Yah, seminggu lagi aku harus melunasi semuanya. Kalo tidak…. “
Kuhela nafas, memberi ruang untuk aku bernafas.
“Aku tak bisa kuliah lagi…..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar