Maraknya kasus tenaga kerja Indonesia yang teraniaya menjadi keprihatinan tersendiri. Bagaimana lambatnya pemerintah menanggapi hal ini. Sampai satu per satu korban berjatuhan. Ini merupakan PR besar untuk pemerintahan saat ini. Dengan dalih ekonomi mereka mencari nafkah ke Malasyia, Hongkong, Arab Saudi dan lainnya. Seharusnya pemerintah mampu memberikan lapangan pekerjaan. Sehingga mereka tak perlu lagi mencari nafkah di negeri orang. Yang mereka belum tahu sistem hukum yang berlaku disana.
Untuk membuka lapangan kerja baru, seharusnya pemerintah lebih focus menambah asset bukan menambah liabilities. Ini menyebabkan pengeluaran tiap tahun akan bertambah dan keamanan financial terganggu.
Pentingnya Pendidikan Finansial
Sebuah penelitian di Australia pernah mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan finansial pada 10% populasi akan berpotensi meningkatkan ekonomi Australia sebesar 6 miliar dollar Australia per tahun dengan cara membuka 16.000 lapangan kerja baru. Wow…ini sangat mengngaggumkan. Bagaimana hal ini jika terjadi di Indonesia? Bisa-bisa tidak akan terjadi lagi namanya penggangguran. Sedemikian besar dampak dari pendidikan financial itu sendiri. Karena ketika kita mampu mengelola keuangan kita maka kesempatan untuk berinvestasi sangatlah besar. Uang yang tidak efisien dapat di minimalisir. Konsumerisme akan terkurangi.
Akan tetapi sayangnya, kita selama ini seolah-olah "dipinggirkan" dalam hal suatu ilmu yang sebenarnya selalu melekat dengan kehidupan sehari-hari. Yang tanpanya maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa, yaitu ilmu tentang uang! Sejak sekolah dasar hingga kuliah yang kita habiskan puluhan tahun, nyaris tidak pernah kita diajarkan ilmu tentang uang, finansial, investasi dsb (kecuali yang jurusan akuntansi/ekonomi). Sehingga sangat wajar saat ini pemahaman kita yang sudah dewasa dan tua sangat minim tentang bagaimana mengelola uang, hutang, menyiapkan berbagai kebutuhan dana masa depan dan lain sebagainya. Sehingga tidak heran banyak dari kita yang akhirnya terjerembab dalam jurang finansial yang akut. Dan ini tidak memandang lulusan SD, SMP, SMU, S1, S2 bahkan S3! Karena ilmu melek finansial ini adalah seharusnya ilmu wajib yang harus dikuasai semua orang baik pria maupun wanita.
Melihat urgensi dari pendidikan financial, dirasa perlu diadakan secara mengglobal. Di Amerika pendidikan financial ini bukanlah hal baru, karena masyarakatnya menyadari pentingnya belajar financial. Sebenarnya di beberapa kota besar Indonesia sudah ada, namun yang tarif yang ada bukan hal yang sedikit. Sehingga hanya mampu dijangkau oleh kalangan menengah atas. Padahal pendidikan financial ini harusnya diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
Training perencanaan keuangan sudah menjamur akhir-akhir ini. Tapi kebanyakan hanya untuk orang-orang dewasa, padahal pendidikan financial harus diterima sedini mungkin. Seperti Robert T.Kiyosaki yang mengenal pendidikan financial sejak usia 9 tahun. Pendidikan financial yang didapat secara informal dari ayah yang kaya, membawanya menjadi salah satu orang terkaya di Amerika.
Pendidikan financial ini akan berhubungan erat dengan asset dan liabilities. Aset dapat diartikan sebagai suatu harta atau kekayaan yang mampu menghasilkan uang. Sedangkan liabilities merupakan suatu kewajiban yang mesti kita bayar. Dalam arti lain, asset dapat menambah pemasukan kita, sedang kewajiban menambah pengeluaran kita. Ini merupakan salah satu konsep akuntansi.
Pendidikan Financial Simple and Fun
Pendidikan financial ini sebaiknya diterapkan secara berjenjang, dari SD, SMP kemudian SMA. Diterapkan sebagai pelajaran tambahan, karena kalau sebagai pelajaran wajib perlu proses. Sedangkan pendidikan financial yang diharapkan ini tidak banyak teoritis tapi lebih aplikatif. Dalam bentuk permainan, monopoli misalnya. Dengan kebiasaan bermain monopoli, maka otak bawah sadar anak akan terekam untuk mengambil pelajaran. Kapan dia harus membeli hipotik, hutang di bank. Sehingga nantinya ketika ia sudah dewas mampu menerapkan dalam kondisi finansialnya. Permainan-permainan yang dihadirkan lebih menekankan pada alam bawah sadar anak. Diharapkan setelah permainan selesai dapat dengan sendirinya mengambil suatu kesimpulan.
Dengan aplikasi Game City Vill yang ada di computer anak-anak pun dapat mengambil pelajaran tentang keuangan karena anak-anak diajari untuk merancang pembangunan kota. Dan pada jenjang lebih lanjut akan diajarkan tentang saham dan investasi. Selain itu pengajar dapat melakukan dengan orantua siswa yang memiliki usaha. Anak-anak dapat diajak ketempat usaha, dan berpartisipasi didalamnya. Bekerja untuk beberapa hari. Sehingga anak-anak dapat menyadari bahwa orant tua mereka bekerja tidaklah mudah. Jadi harus bisa menghargai uang dan tidak menggunakan utuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Pendidikan financial ini dilakukan di luar ruangan, misalnya di taman kota, halaman sekolah atau bahkan mall. Dengan maksud anak-anak dapat melihat kondisi ekonomi disekitarnya sehingga memudahkan penjelasan. Selain itu, anak anak juga diajarkan tentang berbagi, penerapan konsep menerima dengan memberi. Semakin banyak yang kita berikan maka akan semakin banyak juga yang kita terima. Ketika mendapatkan rezeki, jangan lupa untuk menyisihkan sebagian penghasilan kita untuk sesama. Jadi tidak kita nikmati sendiri.
Anak juga diajarkan untuk merencanakan keuangan dengan bahasa mereka. Ini beberapa hal penting dan wajib yang seharusnya kita kuasai bersama begitu juga dengan anak-anak, yang sebagian besar dirujuk dari bukunya Prof. Adler H. Manurung & Lutfi T. Rizky, MM, RFA yang berjudul "Successful Financial Planner: A Complete Guide". Materi tersebut antara lain:1. Memahami kondisi finansial saat ini (financial checkup). 2. Membuat Perencanaan Finansial. 3. Anggaran Pendapatan & Belanja Keluarga. 4. Manajemen Hutang. 5. Manajemen Dana Darurat (emergency fund). 6. Manajemen Resiko Asuransi. 7. Manajemen Investasi. 8. Pajak Penghasilan. 8.Manajemen Dana Pensiun. 9. Manajemen Warisan.
Dengan hal itu, output yang diharapkan adalah anak-anak dapat memiliki financial question yang bagus yang nantinya dapat digunakan untuk pengelolaan keuangan masa depannya. Memiliki karakter yang kuat. Dan dapat bermanfaat bagi sesama. dalam artian pembukaan lapangan pekerjaan. Sehingga tak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mencari sesuap nasi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar