Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
Yang tanpa tentara
Mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
-Soe Hok Gie, 18 Agustus 1973-
Siapa yang tak kenal Soe Hok Gie? Sosok idealis angkatan 66. Pergerakannya membuat orang berdecak kagum ataupun malah berkecak pinggang. Mahasiswa yang berjuang melawan tirani dan ketidakadilan. Untuk melakukan perlawanan layaknya Gie, seseorang harus memiliki idealisme yang kuat. Kata idealisme mungkin sudah tak asing lagi, tapi sebenarnya apa arti idealisme itu? Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Idealisme adalah suatu aliran dalam ilmu filsafat yang mengganggu pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar, yang dapat dirasakan dan dipahami dapat juga diartikan hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, (yaitu menurut suatu patokan atau pedoman yang dianggap sempurna). Cita-cita disini dapat diartikan sebagai sesuatu yang diharapkan terjadi sesuai dengan apa yang dianggap baik.
Dengan kekonsistenan idealisme, mahasiswa dapat melakukan pergerakan dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang menindas rakyat. Seperti kebijakan beras impor yang merugikan petani lokal. pada 2010 pemerintah mengimpor 1,2 juta ton beras, maka pada 2011, impor beras diproyeksikan mencapai 1,75 juta ton. Data ini diperoleh harian Republika. Harga beras lokal jadi murah padahal biaya produksi sangat tinggi. Keadaan seperti ini merugikan petani lokal.
Untuk itu peran mahasiswa sangatlah penting. Mahasiswa berada di posisi yang paling strategis dan fleksibel. Mahasiswa bisa menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah.
Jembatan yang baik adalah jembatan ditopang tiang-tiang penyangga yang kuat. Maka mahasiswa bisa menjadi jembatan yang kokoh apabila mereka memiliki pondasi kuat berupa sikap jujur dan mandiri. Mahasiswa sebaiknya berusaha menerapkan sikap jujur dan mandiri dalam hal apapun. Karena hampir semua kemudharatan berpangkal dari ketidakjujuran, terutama tidak jujur pada hati nurani. Membohongi hati nurani sama dengan munafik, dan orang munafik itu pastinya tidak jujur kepada dirinya. Ketika kita sudah tidak jujur kepada diri kita maka kita akan sulit bahkan mustahil jujur kepada orang lain.
Korupsi yang marak saat ini adalah buah dari ketidakjujuran yang dirawat sejak kecil. Suatu saat nanti para mahasiswalah yang akan menjadi pejabat negara. Maka, mereka harus bisa belajar jujur sejak dini. Menyontek pada saat ujian adalah contoh ketidakjujuran. Menitipkan KRS tanpa alasan adalah sikap yang mencerminkan ketidakjujuran. Hal-hal seperti itu sering diabaikan oleh mahasiswa. Bahkan dianggap sebagai suatu kebiasaan yang wajar.
Mulai saat ini mahasiswa harus bisa mulai menghilangkan kebiasaan yang mencerminkan ketidakjujuran tersebut dengan demikian FKIP akan menjadi Fakultas yang benar-benar berkarakter kuat dan cerdas.
Selain itu kemandirian sangatlah diperlukan untuk menjadi mahasiswa idealis. Dengan sikap mandiri, maka mahasiswa tidak akan bergantung pada orang lain kecuali pada hal-hal yang membutuhkan teamwork. Ketidakbergantungan akan menambah harga diri mahasiswa di mata orang lain. Kemandirian mahasiswa akan menjadikannya sulit ditpengaruhi sikap pragmatis. Kemadirian juga merupakan bentuk dari pembelajaran untuk menghadapi hidup di masa depan.
Menjadi idealis dengan bersikap jujur dan mandiri adalah suatu sikap pencerminan yang baik. Karena hal ini dapat menjadi contoh bagi mahasiswa lain. Dengan begitu mereka juga akan menjadi idealis dan tidak mejadi manusia- manusia apatis dan pragmatis.
Sebelum tulisan ini berakhir, untuk mahasiswa-mahasiswa baru 2011 selamat datang di Universitas Sebelas Maret, The World Class University. Semoga kampus ini dapat menjadi sarana perubahan dan pembentukan idealisme kalian.
Hidup Mahasiswa!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar