Senin, 20 Mei 2013

APA SIH GUNANYA SKRIPSI? (BAB I)



Kenapa harus ada skripsi?
Toh, materi skripsi juga nggak dipakai ketika kerja kan?


Hmm..materi skripsi mungkin memang tidak akan dipakai dalam dunia kerja nanti. Namun di kampus, sekolah, masyarakat maupun tempat kerja kita menghargai satu hal yang sama.

What’s it?

Kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab kita. Kebiasaan-kebiasaan saat menghadapi pekerjaan, tugas dan kewajibanlah yang akan dihargai oleh dunia kerja nantinya. Tentunya, sukses juga akan ditentukan oleh kebiasaan kita dalam menghadapi tugas. Kalau tugas kita sekarang menyelesaikan skripsi, maka selesaikan dengan sikap terbaik. Tunjukkan kalau kita pantang menyerah dengan kendala yang ada... :)


Jadi tahu alasan kita harus menyelesaikan skripsi? Yup. Bukan sebatas pada aplikasi atau penerapan dari ilmu dan teori yang kita dapat semasa pembelajaran di kelas. Lebih dari itu, kita mempelajari banyak hal dari skripsi, istilah pembelajaran implisit. Hal-hal tersebut yang membedakan kita dengan siswa SMA ketika melakukan persyaratan kelulusan, mereka cukup mengerjakan soal-soal UAN, sedangkn mahasiswa? Harus membuat suatu ‘karya’ nyata, dimana dalam proses itu akan banyak nikmat ataupun kendala yang kita peroleh. Namanya proses, tentunya ada suka ada duka, ada lega ada sesak... But, this is real life!

Dari skripsi kita akan belajar sabar dan pantang menyerah. Sabar nunggu dosen pembimbing, sabar untuk dapat ACC, sabar kalo uang bulanan gak cukup buat fotokopi, dan sebagainy. Apalagi kalo ditambah mesti berjuang melawan sikap malas ngerjain revisian, yah.. kadang kita merasa masih punya banyak stok hari esok... Padahal? Jadilah kita menunda ngerjain revisian, endingnya? Kita kalah dengan diri kita. Dan skripsi pun tak kelar-kelar.

Skripsi membelajarkan kita dapat berkomunikasi yang baik, komunikasi dengan dosbing, ketua jurusan, tempat penelitian, ataupun bagian administrasi fakultas. Perlu komunikasi yang baik agar semuanya berjalan sesuai harapan, tapi catet! Jangan carmuk ya.. :)

Makna kekonsitenan komitmen akan kita dapatkan ketika nyekripsi. Tentunya kita sebagai mahasiswa memiliki komitmen ataupun deadline selesainyanya suatu pekerjaan. Hmm..mungkin ada yang merasa tidak memiliki komitmen atau deadline, tapi pasti pernah donk mengangankan waktu selesainya skripsi? Biasanya sih, dengan ada deadline maka kita akan lebih bersemangat nyelesein skripsi, tapi kadang ada gangguan kecil seperti ajakan maen dari temen, hal ini pun bisa menggoyahkan komitmen untuk menyelesaikan tepat waktu. Kadang BBM-an, twitteran, fban ataupun socmed lainnya seringkali menggoyahkan komitmen kita juga, dengan dalih cari selingan atau hiburan, kita buka fb, donwload video, twitteran gak sadar ternyata 3 jam berlalu.... hmmm...seharusnya kan udah bisa selesai 1 bab tuh... hehehehe. Disinilah ujian konsisitensi kita diadu :)

Kita akan belajar berpikir sistematis. Tentunya dunk... kalo kita tipe orang yang suka mikirnya loncat-loncat, dengan ngerjain skripsi maka kita akan menyusun setiap materi dengan sistematis. Ketika menyusun skripsi kita terlebih dahulu akan melihat apa latar belakangnya, lalu kita rumuskan sebenarnya masalahnya itu apa, adakah manfaatnya, hal-hal apa saja yang mendukung terselesaikannya masalah itu, bagaimana cara memecahkannya, dan berakhir pada kesimpulan dan saran. Ini akan cukup membuat kita belajar, ketika di lingkungan kerja, lingkungan masyarakat ataupun lingkungan keluarga dalam memecahkan masalah, ketika melihat masalah tentu hal yang pertama kita lihat adalah apa latar belakang masalah itu, jangan mencari solusi sebelum tahu akar masalahnya. Biasanya hal tersebut kurang efektif.

Yup. Apapun yang kita lakukan akan kita tuai suatu saat nanti. Kalau kita menyelesaikan ‘pekerjaan’ skripsi dengan cara sebaik mungkin, maka kita akan menuai hal terbaik juga... dan sikap pantang menyerah, sabar, kesistemtisan akan kembali ke kita dan membentuk karakter kita. Dan karakter inilah yang akan berharga di kehidupan di masa depan... :D







To becontinue....
Cepat atau Lambat?
(Bab II)

Senin, 06 Mei 2013

LAKUKAN YANG TERBAIK

Diskusi dengan Pak Indrawan Yepe beberapa waktu lalu memberikan banyak hikmah, salah satunya Beri dan Lakukan yang Terbaik dalam setiap tindakan.

Sering orang mengucapkan 3 kata ini, tapi saya baru - baru ini bisa memahaminya. Lakukan yang terbaik = lakukan dengan luar biasa. Apapun itu. Begitu juga dengan menghadapi anak-anak. Perlakukan mereka dengan luar biasa, dengan cara ISTIMEWA!

Misal ketika kamu mengajar dan dibayar Rp 20.000,00/pertemuan walaupun sebenarnya kamu bisa dibayar lebih dari itu. Tapi lakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, layaknya kamu dibayar Rp 200.000,00. Syukuri gaji cash yang diberikan Rp 20.000,00 dan mintalah kekurangan Rp 180.000,00 pada Alloh lewat jalan lain atau menjadi tabungan di akhirat. Ya...karena kita telah melakukan pekerjaan senilai Rp 200.000,00

Subhanaallah...

Ini tentunya tak hanya berlaku untuk masalah uang, tapi juga pekerjaan-pekerjaan hidup lainnya. Lakukan dengan terbaik, luar biasa, istimewa biarkan Alloh yang ‘membayarnya’...

Karena janji Alloh pasti! Tak ada yang sia-sia dalam kebaikan, apalagi dalam rangka meringankan beban sesama... :)

Minggu, 14 April 2013

SIMBAH PUTRI


“ Indah wis mulih durung?”
“ Mbok nek mulih ojo wengi-wengi to nduk...”


Kalimat-kalimat itu masih teringang di telinga saya, kalimat yang dilontarkan oleh simbah putri ketika masih sugeng kalau magrib saya belum ada di rumah. Beliau lebih mengkhawatirkan saya dari pada ibu saya sendiri. Beliau khawatir ada ‘orang-orang jahat’ yang menghadang di jalan seperti di tipi-tipi itu, hehehe. Secara kurang lebih 20 km jarak rumah - kampus, jalannya juga seperti medan off road*hauah*, sebenarnya maklum saja sih kalau khawatir. Tapi selalu saja mengabaikan kekhawatiran beliau. Saya masih sering pulang malam, karena beberapa aktivitas seperti kadang ngajar, ngerjain tugas ataupun menjalankan amanah organisasi.

Simbah putri dari ibu meninggal tanggal 8 Maret 2013 yang lalu, dan besok genap 40 hari beliau tidak ada. Rasanya masih tersimpan banyak kenangan-kenangan, walau tak semuanya manis.. :)

Simbah putri didiagnosis diabetes 3 tahun yang lalu, kadar gulanya yang tinggi membuat beliau juga terkena stroke yang menyebabkan mata kanan tidak bisa melihat dan bibirnya -maaf-, miring ke kanan. Jalannya pun tak sempurna lagi, harus dibantu kruk kadang juga kursi roda. Berbagai pengobatan sudah dijalani, mulai medis, tradisional, pijat, sampai terapi air pun dijalani. Tanpa hasilnya tak seberapa. Yah...mungkin memang harusnya begitu..

Beberapa tahun terakhir ini walaupun terkena stroke tapi beliau masih bisa menjalankan aktivitasnya sendiri. Makan, minum, mandi semuanya bisa sendiri...

Sampai suatu ketika...

Pada awal Februari 2013, pagi-pagi subuh buta mendapat kabar kalau simbah terjatuh dari kamar mandi. Dan sejak saat itu beliau hanya bisa tidur di tempat tidur tidak bisa melakukan aktivitas sendiri...

Selama satu bulan lebih beliau tidak bisa kemana-mana, hanya tidur saja. Karena tubuhnya tak sanggup untuk duduk. Jadi terpaksa kami memakaikan pampers, karena penggunaan pampers terus menerus, kulit simbah yang sudah mulai getas mudah terluka. Akhirnya paha, pinggang dan punggungnya iritasi karena pemakaian pampers dan akibat tiduran terus di kasur..

Pada saat bersamaan sebelumnya, Ayah pun habis diopname di rumah sakit. Jadi ada kejadian gemesin saat itu, ketika Ayah jadwal check up dan bersamaan harus membawa simbah putri ke rumah sakit. Padahal rumah sakitnya berbeda, Ayah di RSUD sedangkan simbah di RSI Yaksi. Gemesinnya adalah ketika Ayah tidak mau check up kalo bukan saya yang nganterin padahal saat itu saya harus juga ngurus rawat inapnya Simbah, tapi endingnya semua kelar juga. Hmmm...ternyata Ayah manja juga ya, hehehehe.

Yup..Pada awalnya simbah sakit tidak langsung terbentuk luka, hanya merah seperti memar lama-kelamaan menjadi luka setengah basah. Atas inisiatif temen saya- yang dulu simbahnya juga mengalami hal sama- saya pergi ke Apotik untuk membeli obat luka.

Sebenarnya saya tidak tega harus mengobati luka simbah, luka yang berdiameter sekitar 7 cm di samping paha kiri ini sangat membuat saya tidak tega. Bukannya jijik tapi saya memang tak tega, karena pasti rasanya sakit sekali jika seperti itu. Saya membayangkan jika diri saya yang mengalami hal tersebut.. pasti rasanya Masyaallah sekali... 
Tapi mau tidak mau saya tetap harus membersihkan dan mengobati luka tersebut, kalau tidak maka luka tersebut akan semakin parah. Saya mencoba mengobati luka-luka tersebut, walaupun sebelumnya saya harus berteriak histeris dan istigfar berkali-kali ketika mau membersihkan luka dengan NaCl kemudian memberikan obat pengering luka diabet , hmm..pada akhirnya saya terbiasa. Dan saya pun menjadi perawat gadungan, lama kelamaan saya tak perlu berteriak histeris lagi sebelum membersihkan luka. Hehehe. Saya malah senang ketika membersihkan luka. Karena pada saat itu timbullah harapan untuk penyembuhan luka simbah...

Sayangnya...

Sebelum luka-luka itu sembuh, Allah berkehendak lain... Allah ingin menyembuhkannya secara langsung dengan menghentikan rasa sakit tersebut tepat tanggal 8 Maret, pukul 07.00 WIB.

Rasanya semua tangisan pecah. Tak tahu kenapa. Mungkin karena selama 22 tahun saya membersamai beliau. Walau semasa dulu, saya sering dimarahi tapi itu saya anggap sebagai pembebalan diri agar tak mudah rapuh.
Saya tak tahu apa ini namaya sebuah kesabaran atau bukan, tapi saya belajar untuk sabar begitu juga ketika saat bersamaan saya harus berlari-lari mengejar deadline skripsi saya.

Hmm...apapun itu saya percaya Allah punya rencana indah bagi bagi setiap hambaNya.. entah itu apa.. :)




*menjelang 40 hari simbah putri, untuk adik dan sepupu-sepupuku: Walaupun tak ada orang tua yang sempurna, tetapi tetaplah berbakti *

Sabtu, 13 April 2013

MAHASISWA MANDIRI, MAHASISWA SUKSES MULIA


"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri"
-Nyai Ontosoroh-

Menjadi sukses merupakan keinginan setiap orang. Tak terkecuali dengan mahasiswa. Namun, tak banyak orang tahu bagaimana jalan menuju kesana. Terkadang malah ada yang menggantungkan kesuksesn pada orang lain. Padahal kalau kita sadari bahwa kesuksesan ada pada tangan kita sendiri. Untuk itu perlu ada sikap meminimalisir ketergantungan kepada orang lain, dalam bentuk kemandirian. Berusaha sekuat tenaga meraih sukses dengan hasil peluh sendiri. Mengoptimalkan potensi yang telah Alloh berikan, yaitu berupa fisik, akal dan kalbu.

Mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa, harapan pembawa perubahan. Tentunya harus mampu bersikap mandiri, yaitu suatu sikap dimana tidak tergantung pada pihak tertentu, mampu mengendalikan diri dalam berfikir dan bersikap. Dalam arti lain, mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Chairul Tanjung, beliau mandiri secara finansial sejak kecil. Untuk membiayai kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, banyak cara yang beliau lakukan. Mulai dari berjualan buku kuliah, membuka usaha foto kopi dikampus. Pernah juga mendirikan toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta Pusat. Tahu Pak Jamil Azzaini? Inspirator yang terkenal dengan ‘Proposal Hidup’-nya. Beliau dulu mengganjal biaya hidup dan kuliah dengan berjualan koran, buku, dan kurma dari pintu ke pintu. Beliau juga membuka usaha rental komputer, katering, dan kerja-kerja serabutan lainnya. Subhanallah sekali kedua Bapak kita ini, dan sekarang mereka menuai kemandirian yang mereka tanam dengan kesuksesan demi kesuksesan.

Kemandirian secara finansial, biasanya juga akan membawa kemndirian pada hal-hal lain, seperti dalam hal pembelajaran dan pemecahan masalah. Walaupun ini tak bersifat mutlak. Pak Choirul Tanjung pun, membuktikan hal ini. Buktinya dulu pernah menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional periode 1984-1985. Berarti kemampuan pembelajaran dalam hal akademik juga tidak dianggap enteng.

Untuk saat ini, sebenarnya sudah lumayan ada beberapa mahasiswa yang mampu mandiri walaupun tak banyak. Sebut saja Vety, sosok mahasiswa mandiri dari keluarga sederhana. Sejak SMA sudah mulai berwirausaha dengan jualan pulsa, sampai kuliah pun dia jualan jilbab, memberikan les privat sampai menerim order snack. Bukti dari kemandiriannya sekarang Vety bisa kuliah sampai sekarang dan mampu menyabet penghargaan Mahasiswa Berprestasi 2012 di fakultasnya.

Kemandirian inilah yang membentuk masa depan kita. Bukan hal mudah untuk memulainya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Mandiri untuk tidak menggantungkan uang bulanan pada orang tua. Mandiri untuk mengerjakan ujian sendiri, tidak nyontek atau bertanya. Mandiri untuk tidak mengantungkan pengambilan keputusan pada orang lain.
Lalu bagaimana memulainya?

Let’s check this out:

1.Menentukan visi hidup
Sebagai insan yang berpendidikan tentunya kita harus memiliki visi atau tujuan hidup. Misalnya ingin menjadi sosok manusia yang sukses. Sukses dunia akhirat. Atau hidup untuk Berbagi, ingin menjadi pemilik Perusahaan Garmen tingkat Nasional, ingin menjadi Dosen dan sebagainya.

2.Membuat proposal hidup

Setelah kita tahu visi hidup kita, maka kita berencana untuk menggapainya. Kalau kata Pak Jamil Azzaini., untuk kegiatan yang berlangsung 1-2 hari saja kita membuat proposal. Apalagi untuk hidup kita yang berlangsung dalam kurun waktu lebih lama. Tentunya kita memerlukan ‘proposal’ yang matang. Proposal ini dibuat bisa dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) atau dengan cara langsung menuliskan rencana atau mimpi-mimpi apa saja yang ingin kita wujudkan. Misalnya di tahun 2013, ingin lulus S1. Tahun 2014, memiliki perusahaan garmen, dan sebagainya. Setelah itu bisa diperinci lagi dan diuraikan bagaimana upaya-upaya kita untuk mewujudkan impian atau tujuan dari hidup.

3.Melatih diri

Exercise makes habbit. Melatih diri adalah salah satu upaya untuk mandiri. Melatih diri untuk berwirausaha, melatih diri untuk menyelesaikan tugas sendiri. Bisa dimulai dengan berlatih berani mengambil keputusan, berani berjualan, berani menanggung resiko dari setiap usaha.

4.Melakukan yang terbaik
Mengupayakan secara optimal di setiap tindakan. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya yang menjadi pemenang adalah mereka yang selalu memberikan yang terbaik, bukan masalah juara atau tidak karena itu hanya penilaian manusia. Sedangkan setiap tindakan terbaik yang disertai dengan keikhlasan akan ‘dibayar’ oleh Alloh.

5.Never Give Up
Tiga kata tersebut merupakan mantra hebat untuk tetap bertahan. Untuk tetap semangat dan konsisten mencapai kemandirian. Karena tak ada yang mudah untuk mencapai sebuah kebaikan. Alloh memberikan surga juga bukan tanpa ujian dan godaan. Begitu juga dengan kemandirian pastinya akan banyak kerikil bahkan batu-batu besar yang menghalangi jalan kita. Tapi janganlah menyerah, perlahan singkirkan kerikil dan batu-batu tersebut. Sampaiilah pada tujuan dengan senyum kepuasan.

6.Lingkungan Kondusif
Mau tinggal di lingkungan seperti apa itu ada pilihan kita. Lingkungan tercakup di dalamnya, teman-teman, organisasi bahkan kos-kosan. Teman-teman kita suka mengeluh? Apatis terhadap diri dan sekitarnya? Sebisa mungkin kita menghindari atau paling tidak mengurangi intensitas pada lingkungan seperti itu. Karena lingkungan tersebut, ketika kita mengeluh tanpa do something maka kita sudah ketinggalan satu tangga dari kemandirian. Lingkungan itu juga termasuk dalam social media, friends list di facebook maupun follower twitter yang sekiranya hanya update berisi keluhan, mengumpat keadaan, sebaiknya dikurangi atau tidak ditambahkan. Karena itu secara tidak langsung menjauhkan kita dari pikiran positif.


Ketika kemandirian telah terbentuk maka Insya Alloh kesuksesan akan mengikuti kita. Meminjam istilah dari Pak Jamil Azzaini, bahwa sukses itu harus Mulia. Maksudnya ketika kita sukses bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga menuju suatu tujuan Mulia yaitu untuk membantu sesama, menyantuni fakir miskin, menolong agama Alloh membantu perbaikan kualitas pendidikan...
Jadi dampak dari kesuksesan kita tak hanya dinikmati oleh diri dan keluarga kita saja. Tapi juga lingkungan sekitar. Dunia dapat, akhirat dapat.

Mari Menjadi Mahasiswa Mandiri, Mahasiswa Sukses Mulia!
“Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau mengubahnya sendiri”



*pernah dimuat di Rubrik Akademia majalah GIVE LAZIS UNS Maret 2013

Rabu, 09 Januari 2013

MATA YANG BASAH


Pagi ini mataku basah
Setelah melewatkan percakapan tadi
Menjadi orang yang merasa bersalah
Karena (mungkin) jadi pengubahmu
Betapa buruknya diriku

Pagi ini mataku basah
Aku tahu semua berawal dari kekagumanmu
Dan respon terhadap itu
Kalau kau tahu
Ada kalimat-kalimat kekaguman yang ingin terlontar dari bibirku
Tapi tertahan di tenggorokan
Tak ingin mengotori hatimu
Akan semakin banyak waktumu untuk memikirkan semua ini

Pagi ini mataku basah
Merasa menjadi kawan yang gagal
Tak membawamu ke arah yang lebih baik
Merasa menjadi seseorang yang...
Ah...tak tahulah
Sebegitu nistakah diriku?
Menjadi pengotor hatimu?
Aku tak berniat untuk itu

Pagi ini mataku basah
Andai kau tahu
Aku hanya ingin melihatmu lebih baik
Lebih bisa menentukan sikap
Lebih mampu menjadi dirimu sendiri
Yah..mungkin caraku salah
Malah membuatmu tak nyaman
Ataukah harus menjauh?

Pagi ini mataku masih basah
Dalam untaian doa
Agar kau selalu dilindungi-Nya
Agar kau selalu dalam bimbingan-Nya
Agar kau tak merasa berdosa lagi
Dan mengutuk semuanya
Agar kau memahami semua ini adalah pembelajaran untuk kita
Bahwa semua ada kadarnya
Bagaimana membuatnya proporsional

Tak ingin memberikan harapan
Karena Sang Maha Penyayang-lah yang pantas memberikan itu
Dan kita wajib percaya akan takdir-Nya




Minggu, 06 Januari 2013

HIDUPMU, NAIK BIS ATAU KERETA? (Part 2)


Sambil mengatur nafas, saya terdiam dan berpikir...

Terserah hidupmu mau naik apa, mau naik Bis atau Kereta? Kalau mau naik bis, pelan, memutar, berhenti di sembarang tempat sedangkan kalau naik kereta lurus aja, cepet hanya berhenti di tempat-tempat tertentu...

Maksudnya apa?

Beberapa orang saya rasa sudah memahami ini, bahwa hidup tentunya punya tujuan. Seperti membahagiakan orang tua, jadi orang sukses, jadi orang yang berguna, jadi dosen dan sebagainya. Yup! Untuk mencapai sebuah tujuan tentunya tidaklah mudah. Akan banyak setan-setan kecil nan imut alias godaan yang menyenangkan, agar kita tidak segera sampai tujuan kita.

Tujuan hidup yang baik bukan berati tanpa godaan, godaannya ini juga ‘terlihat baik’, tapi apakah kita tetap konsisten dengan tujuan hidup kita? Kalau kita mau naik bis, kita akan menghampiri setiap godaan, berhenti sejenak, kemudian jalan lagi, nyantai dan jalan pelan... kalau kita naik kereta ya udah jalan lurus aja, apa pun yang terjadi lurus aja. Walaupun semua akan sampai pada tujuan, tapi waktunya berbeda. Kalau naik bis akan lebih lama, naik kereta lebih cepat. Begitulah... ketika kita konsisten maka kita akan cepat mencapai tujuan kita, dan akan banyak hal lagi yang bisa kita lakukan...

Seperti halnya ketika mengerjakan skripsi, tujuan kita lulus tepat waktu. Apapun persepsi orang tentang lulus tepat waktu. Mengerjakan skripsi akan banyak menemui banyak godaan-godaan, misal kegiatan organisasi, tawaran pekerjaan, kemalasan, nonton, maen , teman-teman yang tidak mendukung dan sebagainya. Tpi tetaplah pada tujuan. Bukan berarti kita tidak peduli sekitar, cuek bebek.Bukan...tapi porsi terbesar kita tetap tujuan hidup kita! Pikiran kita terpusat pada tujuan utama kita, istilahnya sudah menyatu di alam bawah sadar...

Kalaupun ada hambatan-hambatan (bukan godaan) untuk mencapai tujuan, tak apalah...yang terpenting sudah berusaha melakukan yang terbaik dan berdoa.
Kalaupun ada sedikit keterlambatan, biarlah. Karena manusia hanya mampu merencanakan, Tuhanlah yang menentukan..
Kuncinya tetap konsisten, yakin dan semangat!



So, pilih naik Bis atau Kereta??
It’s your CHOICE!

Sabtu, 05 Januari 2013

HIDUPMU, NAIK BIS ATAU KERETA? (Part 1)


December, 15th 2012 saya dan teman saya, Rida memutuskan untuk berkelana ke Jogja. Yah..walaupun dana mepet, tapi tekad kami sudah bulat untuk melepaskan penat dari rutinitas *hauah. Saat itu kami baru menyelesaikan PPL(Program Praktik Lapangan) yang dijalani selama kurang lebih 3 bulan. PPL ini cukup menguras energi kami, rutinitas-rutinitas lain juga membuat kami merasa jenuh.
Yup! Jogja jadi alternatif :)

Saya dan Rida merencanakan semuanya via sms, kami langsung ketemu di stasiun Balapan. Mau naik kereta Madiun Jaya jam 8.35, so kami janjian jam 8. Saya sampai sekitar jam 8an, tapi Rida kok belum datang? Sms kok gak dibalas-balas... hwuahwaa...saya mulai cemas. Padahal kereta beberapa menit lagi sudah berangkat. Mau beli tiket dulu tapi takut kalau Rida ndak jadi dateng... :(

Setelah beberapa menit nunggu, muncul dia dengan terengah-engah, segera saja kami pesan tiket.... dan...jawabannya adalah: tiketnya udah habis mbak! *tuing-tuing*hoammmm...

Akhirnya kami memutuskan untuk naik Bis! Seperti saran teman saya, nanti turun di Prambanan setelah itu naik Trans Jogja. Naik bis memang cuma 5ribu perak. Tapi lambretanya.... bikin sesuatu banget, agak macet juga karena mau liburan sekolah.. tak apalah, nasi udah jadi bubur... bikin saja jadi bubur ayam yang yummy, kami habiskan perjalanan dengan ngobrol..* zbkjaijakawfgvbdvnjulplvhgjhkmkjyf

Sekitar 2,5 jam sampailah kita di tempat tujuan! M-A-L-I-O-B-O-R-O

Tapi tujuan pertama kami bukan ke pasar emperannya, kami langsung capcus ke stasiun Tugu! Ngapain coba? Pesen tiket! Buat kereta pulang... Yup sore kita harus udah di Solo, ngajar. So, nyari yang cepet.

Sampai di stasiun Tugu....

‘Tiketnya dibuka nanti beberapa jam sebelum pemberangkatan, mbaknya kesini lagi jam setengah 2an saja!’ *kereta jam 14.36*

Gubrak!

Ya sudahlah, jalan ke Malioboro lagi aja...

Lumayan sih.... Lumayan capek...

Hehehehe.

Bener kata sopir bis tadi, kalo penjual pasar Malioboro orangnya malas-malas. Jam 11 aja baru buka lapak. Hmm...jadi kita nyampai sana, belum semua pedagang buka. Jalan aja. Jalan aja. Tengok kanan, ada Perpustakaan Daerah Yogyakarta*bener gak ya namanya*, pokoknya ada perpus gitu deh.. baru ngeh kalo selama ini disana ada perpustakaan di antara pertokoan. Good idea! Bisa jadi masukan, membuat perpustakaan di tengah pusat perbelanjaan atau pusat wisata. Dan kita memutuskan untuk masuk...

Brrr...dingin. AC-nya kerasa banget. Banyak tumpukan-tumpukan arsip disana,arsip BerNas, dan lain-lain. Saya merasa ini bukan perpustakaan tapi museum... hehehe. Banyak arsip tempo doeloe, majalah-majalahnya pun tidak update... mungkin ada beberapa, ya..koran harian Jogja yang terbit hari ini. Eh ada Kyoto Book Corner, banyak buku-buku berhuruf kanji disana. Saya agak bingung siapa sebenarnya Kyoto? Kok sampai-sampainya punya corner tersendiri? Pasti dia orang hebat!*Positive thinking* jadi kepikiran punya Indah Book Corner, hehehehe. Isinya semua karya saya!*karya apaan coba?



Walau tampilannya tempo doeloe, disini free wifi lho... jadi lumayan kalo capek muter-muter Malioboro mampir sini ngadem sambil hotspotan.... 

Setelah puas foto-foto*eh* dan membuka-buka majalah kami putuskan untuk lanjut menyusuri Malioboro..

Sudah mulai ramai nih, baju batik, kaos oblong, aksesoris semua ditata dengan apik... Kalo lihat kaos jadi ingat sampai ya? Pengin beliin sih, hmm tapi..rencananya emang kami gak mau beli apa-apa..

Makan! Setelah muter-muter kami memutuskan makan di Mc*, jauh-jauh ke Jogja makannya di Mc*...haduh pie banget i... solat di masjid kantor Gubernur trus ke pasar Beringharjo, setelah itu memutuskan untuk pulang karena jam hampir menunjukkan jam 14. Padahal sebenarnya mau lihat-lihat ke Shopping Center, Taman Pintar dan Benteng Vredebrug. Hmm..jalan dari Beringharjo ke Stasiun Tugu lumayan jauh juga ya, kami harus berlari-lari untuk sampai.kami harus berlari karena ada satu kesalahan saya*undercover* Beberapa menit lagi kereta mau berangkat. Jadi penumpang terakhir. 1 menit sebelum keberangkatan.

Terduduk lemas di kereta... kemudian tertawa bareng. Menertawakan hari ini!


To be continue....