Sabtu, 13 April 2013

MAHASISWA MANDIRI, MAHASISWA SUKSES MULIA


"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri"
-Nyai Ontosoroh-

Menjadi sukses merupakan keinginan setiap orang. Tak terkecuali dengan mahasiswa. Namun, tak banyak orang tahu bagaimana jalan menuju kesana. Terkadang malah ada yang menggantungkan kesuksesn pada orang lain. Padahal kalau kita sadari bahwa kesuksesan ada pada tangan kita sendiri. Untuk itu perlu ada sikap meminimalisir ketergantungan kepada orang lain, dalam bentuk kemandirian. Berusaha sekuat tenaga meraih sukses dengan hasil peluh sendiri. Mengoptimalkan potensi yang telah Alloh berikan, yaitu berupa fisik, akal dan kalbu.

Mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa, harapan pembawa perubahan. Tentunya harus mampu bersikap mandiri, yaitu suatu sikap dimana tidak tergantung pada pihak tertentu, mampu mengendalikan diri dalam berfikir dan bersikap. Dalam arti lain, mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Chairul Tanjung, beliau mandiri secara finansial sejak kecil. Untuk membiayai kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, banyak cara yang beliau lakukan. Mulai dari berjualan buku kuliah, membuka usaha foto kopi dikampus. Pernah juga mendirikan toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta Pusat. Tahu Pak Jamil Azzaini? Inspirator yang terkenal dengan ‘Proposal Hidup’-nya. Beliau dulu mengganjal biaya hidup dan kuliah dengan berjualan koran, buku, dan kurma dari pintu ke pintu. Beliau juga membuka usaha rental komputer, katering, dan kerja-kerja serabutan lainnya. Subhanallah sekali kedua Bapak kita ini, dan sekarang mereka menuai kemandirian yang mereka tanam dengan kesuksesan demi kesuksesan.

Kemandirian secara finansial, biasanya juga akan membawa kemndirian pada hal-hal lain, seperti dalam hal pembelajaran dan pemecahan masalah. Walaupun ini tak bersifat mutlak. Pak Choirul Tanjung pun, membuktikan hal ini. Buktinya dulu pernah menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional periode 1984-1985. Berarti kemampuan pembelajaran dalam hal akademik juga tidak dianggap enteng.

Untuk saat ini, sebenarnya sudah lumayan ada beberapa mahasiswa yang mampu mandiri walaupun tak banyak. Sebut saja Vety, sosok mahasiswa mandiri dari keluarga sederhana. Sejak SMA sudah mulai berwirausaha dengan jualan pulsa, sampai kuliah pun dia jualan jilbab, memberikan les privat sampai menerim order snack. Bukti dari kemandiriannya sekarang Vety bisa kuliah sampai sekarang dan mampu menyabet penghargaan Mahasiswa Berprestasi 2012 di fakultasnya.

Kemandirian inilah yang membentuk masa depan kita. Bukan hal mudah untuk memulainya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Mandiri untuk tidak menggantungkan uang bulanan pada orang tua. Mandiri untuk mengerjakan ujian sendiri, tidak nyontek atau bertanya. Mandiri untuk tidak mengantungkan pengambilan keputusan pada orang lain.
Lalu bagaimana memulainya?

Let’s check this out:

1.Menentukan visi hidup
Sebagai insan yang berpendidikan tentunya kita harus memiliki visi atau tujuan hidup. Misalnya ingin menjadi sosok manusia yang sukses. Sukses dunia akhirat. Atau hidup untuk Berbagi, ingin menjadi pemilik Perusahaan Garmen tingkat Nasional, ingin menjadi Dosen dan sebagainya.

2.Membuat proposal hidup

Setelah kita tahu visi hidup kita, maka kita berencana untuk menggapainya. Kalau kata Pak Jamil Azzaini., untuk kegiatan yang berlangsung 1-2 hari saja kita membuat proposal. Apalagi untuk hidup kita yang berlangsung dalam kurun waktu lebih lama. Tentunya kita memerlukan ‘proposal’ yang matang. Proposal ini dibuat bisa dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) atau dengan cara langsung menuliskan rencana atau mimpi-mimpi apa saja yang ingin kita wujudkan. Misalnya di tahun 2013, ingin lulus S1. Tahun 2014, memiliki perusahaan garmen, dan sebagainya. Setelah itu bisa diperinci lagi dan diuraikan bagaimana upaya-upaya kita untuk mewujudkan impian atau tujuan dari hidup.

3.Melatih diri

Exercise makes habbit. Melatih diri adalah salah satu upaya untuk mandiri. Melatih diri untuk berwirausaha, melatih diri untuk menyelesaikan tugas sendiri. Bisa dimulai dengan berlatih berani mengambil keputusan, berani berjualan, berani menanggung resiko dari setiap usaha.

4.Melakukan yang terbaik
Mengupayakan secara optimal di setiap tindakan. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya yang menjadi pemenang adalah mereka yang selalu memberikan yang terbaik, bukan masalah juara atau tidak karena itu hanya penilaian manusia. Sedangkan setiap tindakan terbaik yang disertai dengan keikhlasan akan ‘dibayar’ oleh Alloh.

5.Never Give Up
Tiga kata tersebut merupakan mantra hebat untuk tetap bertahan. Untuk tetap semangat dan konsisten mencapai kemandirian. Karena tak ada yang mudah untuk mencapai sebuah kebaikan. Alloh memberikan surga juga bukan tanpa ujian dan godaan. Begitu juga dengan kemandirian pastinya akan banyak kerikil bahkan batu-batu besar yang menghalangi jalan kita. Tapi janganlah menyerah, perlahan singkirkan kerikil dan batu-batu tersebut. Sampaiilah pada tujuan dengan senyum kepuasan.

6.Lingkungan Kondusif
Mau tinggal di lingkungan seperti apa itu ada pilihan kita. Lingkungan tercakup di dalamnya, teman-teman, organisasi bahkan kos-kosan. Teman-teman kita suka mengeluh? Apatis terhadap diri dan sekitarnya? Sebisa mungkin kita menghindari atau paling tidak mengurangi intensitas pada lingkungan seperti itu. Karena lingkungan tersebut, ketika kita mengeluh tanpa do something maka kita sudah ketinggalan satu tangga dari kemandirian. Lingkungan itu juga termasuk dalam social media, friends list di facebook maupun follower twitter yang sekiranya hanya update berisi keluhan, mengumpat keadaan, sebaiknya dikurangi atau tidak ditambahkan. Karena itu secara tidak langsung menjauhkan kita dari pikiran positif.


Ketika kemandirian telah terbentuk maka Insya Alloh kesuksesan akan mengikuti kita. Meminjam istilah dari Pak Jamil Azzaini, bahwa sukses itu harus Mulia. Maksudnya ketika kita sukses bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga menuju suatu tujuan Mulia yaitu untuk membantu sesama, menyantuni fakir miskin, menolong agama Alloh membantu perbaikan kualitas pendidikan...
Jadi dampak dari kesuksesan kita tak hanya dinikmati oleh diri dan keluarga kita saja. Tapi juga lingkungan sekitar. Dunia dapat, akhirat dapat.

Mari Menjadi Mahasiswa Mandiri, Mahasiswa Sukses Mulia!
“Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau mengubahnya sendiri”



*pernah dimuat di Rubrik Akademia majalah GIVE LAZIS UNS Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar