Sabtu, 13 April 2013

MAHASISWA MANDIRI, MAHASISWA SUKSES MULIA


"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri"
-Nyai Ontosoroh-

Menjadi sukses merupakan keinginan setiap orang. Tak terkecuali dengan mahasiswa. Namun, tak banyak orang tahu bagaimana jalan menuju kesana. Terkadang malah ada yang menggantungkan kesuksesn pada orang lain. Padahal kalau kita sadari bahwa kesuksesan ada pada tangan kita sendiri. Untuk itu perlu ada sikap meminimalisir ketergantungan kepada orang lain, dalam bentuk kemandirian. Berusaha sekuat tenaga meraih sukses dengan hasil peluh sendiri. Mengoptimalkan potensi yang telah Alloh berikan, yaitu berupa fisik, akal dan kalbu.

Mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa, harapan pembawa perubahan. Tentunya harus mampu bersikap mandiri, yaitu suatu sikap dimana tidak tergantung pada pihak tertentu, mampu mengendalikan diri dalam berfikir dan bersikap. Dalam arti lain, mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Chairul Tanjung, beliau mandiri secara finansial sejak kecil. Untuk membiayai kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, banyak cara yang beliau lakukan. Mulai dari berjualan buku kuliah, membuka usaha foto kopi dikampus. Pernah juga mendirikan toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta Pusat. Tahu Pak Jamil Azzaini? Inspirator yang terkenal dengan ‘Proposal Hidup’-nya. Beliau dulu mengganjal biaya hidup dan kuliah dengan berjualan koran, buku, dan kurma dari pintu ke pintu. Beliau juga membuka usaha rental komputer, katering, dan kerja-kerja serabutan lainnya. Subhanallah sekali kedua Bapak kita ini, dan sekarang mereka menuai kemandirian yang mereka tanam dengan kesuksesan demi kesuksesan.

Kemandirian secara finansial, biasanya juga akan membawa kemndirian pada hal-hal lain, seperti dalam hal pembelajaran dan pemecahan masalah. Walaupun ini tak bersifat mutlak. Pak Choirul Tanjung pun, membuktikan hal ini. Buktinya dulu pernah menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional periode 1984-1985. Berarti kemampuan pembelajaran dalam hal akademik juga tidak dianggap enteng.

Untuk saat ini, sebenarnya sudah lumayan ada beberapa mahasiswa yang mampu mandiri walaupun tak banyak. Sebut saja Vety, sosok mahasiswa mandiri dari keluarga sederhana. Sejak SMA sudah mulai berwirausaha dengan jualan pulsa, sampai kuliah pun dia jualan jilbab, memberikan les privat sampai menerim order snack. Bukti dari kemandiriannya sekarang Vety bisa kuliah sampai sekarang dan mampu menyabet penghargaan Mahasiswa Berprestasi 2012 di fakultasnya.

Kemandirian inilah yang membentuk masa depan kita. Bukan hal mudah untuk memulainya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Mandiri untuk tidak menggantungkan uang bulanan pada orang tua. Mandiri untuk mengerjakan ujian sendiri, tidak nyontek atau bertanya. Mandiri untuk tidak mengantungkan pengambilan keputusan pada orang lain.
Lalu bagaimana memulainya?

Let’s check this out:

1.Menentukan visi hidup
Sebagai insan yang berpendidikan tentunya kita harus memiliki visi atau tujuan hidup. Misalnya ingin menjadi sosok manusia yang sukses. Sukses dunia akhirat. Atau hidup untuk Berbagi, ingin menjadi pemilik Perusahaan Garmen tingkat Nasional, ingin menjadi Dosen dan sebagainya.

2.Membuat proposal hidup

Setelah kita tahu visi hidup kita, maka kita berencana untuk menggapainya. Kalau kata Pak Jamil Azzaini., untuk kegiatan yang berlangsung 1-2 hari saja kita membuat proposal. Apalagi untuk hidup kita yang berlangsung dalam kurun waktu lebih lama. Tentunya kita memerlukan ‘proposal’ yang matang. Proposal ini dibuat bisa dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) atau dengan cara langsung menuliskan rencana atau mimpi-mimpi apa saja yang ingin kita wujudkan. Misalnya di tahun 2013, ingin lulus S1. Tahun 2014, memiliki perusahaan garmen, dan sebagainya. Setelah itu bisa diperinci lagi dan diuraikan bagaimana upaya-upaya kita untuk mewujudkan impian atau tujuan dari hidup.

3.Melatih diri

Exercise makes habbit. Melatih diri adalah salah satu upaya untuk mandiri. Melatih diri untuk berwirausaha, melatih diri untuk menyelesaikan tugas sendiri. Bisa dimulai dengan berlatih berani mengambil keputusan, berani berjualan, berani menanggung resiko dari setiap usaha.

4.Melakukan yang terbaik
Mengupayakan secara optimal di setiap tindakan. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya yang menjadi pemenang adalah mereka yang selalu memberikan yang terbaik, bukan masalah juara atau tidak karena itu hanya penilaian manusia. Sedangkan setiap tindakan terbaik yang disertai dengan keikhlasan akan ‘dibayar’ oleh Alloh.

5.Never Give Up
Tiga kata tersebut merupakan mantra hebat untuk tetap bertahan. Untuk tetap semangat dan konsisten mencapai kemandirian. Karena tak ada yang mudah untuk mencapai sebuah kebaikan. Alloh memberikan surga juga bukan tanpa ujian dan godaan. Begitu juga dengan kemandirian pastinya akan banyak kerikil bahkan batu-batu besar yang menghalangi jalan kita. Tapi janganlah menyerah, perlahan singkirkan kerikil dan batu-batu tersebut. Sampaiilah pada tujuan dengan senyum kepuasan.

6.Lingkungan Kondusif
Mau tinggal di lingkungan seperti apa itu ada pilihan kita. Lingkungan tercakup di dalamnya, teman-teman, organisasi bahkan kos-kosan. Teman-teman kita suka mengeluh? Apatis terhadap diri dan sekitarnya? Sebisa mungkin kita menghindari atau paling tidak mengurangi intensitas pada lingkungan seperti itu. Karena lingkungan tersebut, ketika kita mengeluh tanpa do something maka kita sudah ketinggalan satu tangga dari kemandirian. Lingkungan itu juga termasuk dalam social media, friends list di facebook maupun follower twitter yang sekiranya hanya update berisi keluhan, mengumpat keadaan, sebaiknya dikurangi atau tidak ditambahkan. Karena itu secara tidak langsung menjauhkan kita dari pikiran positif.


Ketika kemandirian telah terbentuk maka Insya Alloh kesuksesan akan mengikuti kita. Meminjam istilah dari Pak Jamil Azzaini, bahwa sukses itu harus Mulia. Maksudnya ketika kita sukses bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga menuju suatu tujuan Mulia yaitu untuk membantu sesama, menyantuni fakir miskin, menolong agama Alloh membantu perbaikan kualitas pendidikan...
Jadi dampak dari kesuksesan kita tak hanya dinikmati oleh diri dan keluarga kita saja. Tapi juga lingkungan sekitar. Dunia dapat, akhirat dapat.

Mari Menjadi Mahasiswa Mandiri, Mahasiswa Sukses Mulia!
“Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau mengubahnya sendiri”



*pernah dimuat di Rubrik Akademia majalah GIVE LAZIS UNS Maret 2013

Rabu, 09 Januari 2013

MATA YANG BASAH


Pagi ini mataku basah
Setelah melewatkan percakapan tadi
Menjadi orang yang merasa bersalah
Karena (mungkin) jadi pengubahmu
Betapa buruknya diriku

Pagi ini mataku basah
Aku tahu semua berawal dari kekagumanmu
Dan respon terhadap itu
Kalau kau tahu
Ada kalimat-kalimat kekaguman yang ingin terlontar dari bibirku
Tapi tertahan di tenggorokan
Tak ingin mengotori hatimu
Akan semakin banyak waktumu untuk memikirkan semua ini

Pagi ini mataku basah
Merasa menjadi kawan yang gagal
Tak membawamu ke arah yang lebih baik
Merasa menjadi seseorang yang...
Ah...tak tahulah
Sebegitu nistakah diriku?
Menjadi pengotor hatimu?
Aku tak berniat untuk itu

Pagi ini mataku basah
Andai kau tahu
Aku hanya ingin melihatmu lebih baik
Lebih bisa menentukan sikap
Lebih mampu menjadi dirimu sendiri
Yah..mungkin caraku salah
Malah membuatmu tak nyaman
Ataukah harus menjauh?

Pagi ini mataku masih basah
Dalam untaian doa
Agar kau selalu dilindungi-Nya
Agar kau selalu dalam bimbingan-Nya
Agar kau tak merasa berdosa lagi
Dan mengutuk semuanya
Agar kau memahami semua ini adalah pembelajaran untuk kita
Bahwa semua ada kadarnya
Bagaimana membuatnya proporsional

Tak ingin memberikan harapan
Karena Sang Maha Penyayang-lah yang pantas memberikan itu
Dan kita wajib percaya akan takdir-Nya




Minggu, 06 Januari 2013

HIDUPMU, NAIK BIS ATAU KERETA? (Part 2)


Sambil mengatur nafas, saya terdiam dan berpikir...

Terserah hidupmu mau naik apa, mau naik Bis atau Kereta? Kalau mau naik bis, pelan, memutar, berhenti di sembarang tempat sedangkan kalau naik kereta lurus aja, cepet hanya berhenti di tempat-tempat tertentu...

Maksudnya apa?

Beberapa orang saya rasa sudah memahami ini, bahwa hidup tentunya punya tujuan. Seperti membahagiakan orang tua, jadi orang sukses, jadi orang yang berguna, jadi dosen dan sebagainya. Yup! Untuk mencapai sebuah tujuan tentunya tidaklah mudah. Akan banyak setan-setan kecil nan imut alias godaan yang menyenangkan, agar kita tidak segera sampai tujuan kita.

Tujuan hidup yang baik bukan berati tanpa godaan, godaannya ini juga ‘terlihat baik’, tapi apakah kita tetap konsisten dengan tujuan hidup kita? Kalau kita mau naik bis, kita akan menghampiri setiap godaan, berhenti sejenak, kemudian jalan lagi, nyantai dan jalan pelan... kalau kita naik kereta ya udah jalan lurus aja, apa pun yang terjadi lurus aja. Walaupun semua akan sampai pada tujuan, tapi waktunya berbeda. Kalau naik bis akan lebih lama, naik kereta lebih cepat. Begitulah... ketika kita konsisten maka kita akan cepat mencapai tujuan kita, dan akan banyak hal lagi yang bisa kita lakukan...

Seperti halnya ketika mengerjakan skripsi, tujuan kita lulus tepat waktu. Apapun persepsi orang tentang lulus tepat waktu. Mengerjakan skripsi akan banyak menemui banyak godaan-godaan, misal kegiatan organisasi, tawaran pekerjaan, kemalasan, nonton, maen , teman-teman yang tidak mendukung dan sebagainya. Tpi tetaplah pada tujuan. Bukan berarti kita tidak peduli sekitar, cuek bebek.Bukan...tapi porsi terbesar kita tetap tujuan hidup kita! Pikiran kita terpusat pada tujuan utama kita, istilahnya sudah menyatu di alam bawah sadar...

Kalaupun ada hambatan-hambatan (bukan godaan) untuk mencapai tujuan, tak apalah...yang terpenting sudah berusaha melakukan yang terbaik dan berdoa.
Kalaupun ada sedikit keterlambatan, biarlah. Karena manusia hanya mampu merencanakan, Tuhanlah yang menentukan..
Kuncinya tetap konsisten, yakin dan semangat!



So, pilih naik Bis atau Kereta??
It’s your CHOICE!

Sabtu, 05 Januari 2013

HIDUPMU, NAIK BIS ATAU KERETA? (Part 1)


December, 15th 2012 saya dan teman saya, Rida memutuskan untuk berkelana ke Jogja. Yah..walaupun dana mepet, tapi tekad kami sudah bulat untuk melepaskan penat dari rutinitas *hauah. Saat itu kami baru menyelesaikan PPL(Program Praktik Lapangan) yang dijalani selama kurang lebih 3 bulan. PPL ini cukup menguras energi kami, rutinitas-rutinitas lain juga membuat kami merasa jenuh.
Yup! Jogja jadi alternatif :)

Saya dan Rida merencanakan semuanya via sms, kami langsung ketemu di stasiun Balapan. Mau naik kereta Madiun Jaya jam 8.35, so kami janjian jam 8. Saya sampai sekitar jam 8an, tapi Rida kok belum datang? Sms kok gak dibalas-balas... hwuahwaa...saya mulai cemas. Padahal kereta beberapa menit lagi sudah berangkat. Mau beli tiket dulu tapi takut kalau Rida ndak jadi dateng... :(

Setelah beberapa menit nunggu, muncul dia dengan terengah-engah, segera saja kami pesan tiket.... dan...jawabannya adalah: tiketnya udah habis mbak! *tuing-tuing*hoammmm...

Akhirnya kami memutuskan untuk naik Bis! Seperti saran teman saya, nanti turun di Prambanan setelah itu naik Trans Jogja. Naik bis memang cuma 5ribu perak. Tapi lambretanya.... bikin sesuatu banget, agak macet juga karena mau liburan sekolah.. tak apalah, nasi udah jadi bubur... bikin saja jadi bubur ayam yang yummy, kami habiskan perjalanan dengan ngobrol..* zbkjaijakawfgvbdvnjulplvhgjhkmkjyf

Sekitar 2,5 jam sampailah kita di tempat tujuan! M-A-L-I-O-B-O-R-O

Tapi tujuan pertama kami bukan ke pasar emperannya, kami langsung capcus ke stasiun Tugu! Ngapain coba? Pesen tiket! Buat kereta pulang... Yup sore kita harus udah di Solo, ngajar. So, nyari yang cepet.

Sampai di stasiun Tugu....

‘Tiketnya dibuka nanti beberapa jam sebelum pemberangkatan, mbaknya kesini lagi jam setengah 2an saja!’ *kereta jam 14.36*

Gubrak!

Ya sudahlah, jalan ke Malioboro lagi aja...

Lumayan sih.... Lumayan capek...

Hehehehe.

Bener kata sopir bis tadi, kalo penjual pasar Malioboro orangnya malas-malas. Jam 11 aja baru buka lapak. Hmm...jadi kita nyampai sana, belum semua pedagang buka. Jalan aja. Jalan aja. Tengok kanan, ada Perpustakaan Daerah Yogyakarta*bener gak ya namanya*, pokoknya ada perpus gitu deh.. baru ngeh kalo selama ini disana ada perpustakaan di antara pertokoan. Good idea! Bisa jadi masukan, membuat perpustakaan di tengah pusat perbelanjaan atau pusat wisata. Dan kita memutuskan untuk masuk...

Brrr...dingin. AC-nya kerasa banget. Banyak tumpukan-tumpukan arsip disana,arsip BerNas, dan lain-lain. Saya merasa ini bukan perpustakaan tapi museum... hehehe. Banyak arsip tempo doeloe, majalah-majalahnya pun tidak update... mungkin ada beberapa, ya..koran harian Jogja yang terbit hari ini. Eh ada Kyoto Book Corner, banyak buku-buku berhuruf kanji disana. Saya agak bingung siapa sebenarnya Kyoto? Kok sampai-sampainya punya corner tersendiri? Pasti dia orang hebat!*Positive thinking* jadi kepikiran punya Indah Book Corner, hehehehe. Isinya semua karya saya!*karya apaan coba?



Walau tampilannya tempo doeloe, disini free wifi lho... jadi lumayan kalo capek muter-muter Malioboro mampir sini ngadem sambil hotspotan.... 

Setelah puas foto-foto*eh* dan membuka-buka majalah kami putuskan untuk lanjut menyusuri Malioboro..

Sudah mulai ramai nih, baju batik, kaos oblong, aksesoris semua ditata dengan apik... Kalo lihat kaos jadi ingat sampai ya? Pengin beliin sih, hmm tapi..rencananya emang kami gak mau beli apa-apa..

Makan! Setelah muter-muter kami memutuskan makan di Mc*, jauh-jauh ke Jogja makannya di Mc*...haduh pie banget i... solat di masjid kantor Gubernur trus ke pasar Beringharjo, setelah itu memutuskan untuk pulang karena jam hampir menunjukkan jam 14. Padahal sebenarnya mau lihat-lihat ke Shopping Center, Taman Pintar dan Benteng Vredebrug. Hmm..jalan dari Beringharjo ke Stasiun Tugu lumayan jauh juga ya, kami harus berlari-lari untuk sampai.kami harus berlari karena ada satu kesalahan saya*undercover* Beberapa menit lagi kereta mau berangkat. Jadi penumpang terakhir. 1 menit sebelum keberangkatan.

Terduduk lemas di kereta... kemudian tertawa bareng. Menertawakan hari ini!


To be continue....



Jumat, 21 Desember 2012

PPL, Unforgetable Moment...



“ Bu Indah...Bu Indah... !”

Masih seger dalam ingatan, ketika anak-anak begitu hebring ketika bertemu denganku atau teman-teman PPL yang lain..
Wajah-wajah yang sebenarnya masih polos dan tulus, namun telah terkontaminasi oleh budaya-budaya yang bisa saya sebut ‘alay’... saya kadang kasihan juga sama mereka...

Hmm..yah, melihat wajah-wajah mereka, sepertinya mereka juga membutuhkan penyegaran dalam pembelajaran, tak monoton dengan model konservatif. Karena kebanyakan PPL mengajar dengan penuh inovasi dan kesabaran ekstra.
Ada banyak kenangan disana, walaupun pada awalnya saya agak kurang ‘ikhlas’ di tempatkan disana. Sembari berpositif thinking pada dosen yang menempatkan, saya berusaha memberikan yang terbaik yang saya bisa... 

Penyerahan PPL berlangsung sederhana, pada tanggal 18 September 2012.

Kemudian saya menjalani masa-masa mengajar, 6 jam dalam seminggu, 2 kali pertemuan di kelas yang berbeda dan mengajar Pengelolaan Kartu Piutang. Materi yang agak asing bagi saya, salah satu bagian dari akun dijadikan mata pelajaran. Ya..mungkin kalo ngajar di SMK seperti ini, lebih spesifik dan mendalam. Saya pun harus mempelajari sendiri materi tersebut, karena selama kuliah saya belum pernah mendapat materi ini secara mendalam-hmm..taulah sendiri, kuliah hanya mempelajari sesuatu yang general-



Saya pun agak bingung harus ngajar selama 3 jam mata pelajaran ato sekitar 135 menit. Hwuahwaa...jujur saya kebingungan mau ngomong apa aja selama 2 jam lebih? Padahal kalo untuk presentasi atau menjelaskan sesuatu saya lebih suka to the point, tak banyak bertele-tele...
Baru inget. SMK itu harus banyak praktek! Yup, akhirnya saya menggunakan metode, 1 jam menjelaskan, 1 jam latihan soal, 1 jam untuk koreksi soal... dan akhirnya 3 jam tidak terasa!
Selain soal ngajar-mengajar, ada beberapa kegiatan yang saya ikuti seperti acara Idhul Adha penyembelihan hewan kurban, pemilihan ketua OSIS, ekstra PMR, menjadi pengawas ujian mid maupun UAS, acara pensi sekolah sampai menjenguk 2 anak saya yang sakit...

Something different I ever had, yup. Karena saya dulu berasal dari SMA bukan SMK..

Ada guru-guru yang hebat juga, ternyata guru-guru sekolah menengah tidak boleh dipandang sebelah mata terutama guru-guru SMK. Dari obrolan-obrolan ringan, ada guru yang sekarang mengambil 2 Master sekaligus dan beasiswa, namanya Pak Joko. Guru akuntansi yang mengabdi lebih dari 10 tahun, siswa didiknya sekarang pun ada yang menjadi dosen di prodi saya. Atau Pak Bowo, guru teladan se Surakarta untuk kategori Inovasi Desain Pembelajaran, pembawaannya yang ringan, murah senyum dan respek membuat saya mengaguminya, menurut cerita beliau pernah bekerja di salah satu Percetakan besar di Solo bagian desain tapi keluar untuk mengajar. Bu Sri Supartini juga menyenangkan, wanita ini telah menjabat kepala sekolah selama 2 periode. Rajin keliling sekolah hanya untuk melihat kondisi sekolahnya... 

Pak Arif, salah satu Wakasek, beliaun hafal nama saya. Beliau juga hebring kalo ketemu saya dan bilang.. “Mbak Indah...” dengan senyumnya yang khas. Kata beliau, wajah saya mirip dengan salah satu wartawan Solopos yang sering ke sekolah, hmm...makanya beliau hafal dengan saya. Ternyata..oh ternyata... Walaupun sudah tidak muda lagi, tapi aura semangatnya masih terlihat. Konsisten walaupun kalo ngendikan agak ‘terus-terang’ , apa adanya... *ceplas-ceplos,red* Tapi saya suka!!

Nice Moment... 






Rabu, 28 November 2012

JANGAN LELAH NAK...


Jangan lelah Nak...
Hidup ini hanya soal usaha
Usaha yang cerdas
Dibarengi doa
Dan serahkan hasil pada Alloh

Jangan lelah Nak...
Ia akan mematikan masa depanmu
Secara perlahan

Jangan lihat kawanmu Nak...
Ketika imanmu belum kuat
Jangan pula kau bandingkan dirimu dengan mereka
Karena tujuan dan kondisimu berbeda

Fokuslah Nak...
Pada apa yang akan kau capai
Untuk membahagiakan dirimu
Membanggakan orangtuamu
Menebar manfaat bagi agama dan bangsamu

Jangan lelah Nak...
Jika kau berada pada jalan yang kau yakini
Maka beribu malaikat menemanimu

Jangan lelah Nak...
Sampai kau kembali dengan senyuman Tuhanmu...






Selasa, 16 Oktober 2012

THE JUNGLE IS YOURS!!




Badai bernama ‘hopeless tingkat dewa’ akhirnya berlalu juga.. Yup, badai ini telah terhapus oleh salah satu nasehat dari dosen terbaik saya. Thanks Bu!
Awal Oktober saya mulai membuka mini proposal saya, hmm...setelah 1 bulan lebih tak tersentuh*hopeless revisi* setelah berusaha benerin dan nyiapin segala macam jawaban pertanyaan yang mungkin ditanyakan, saya pun pasrah dan ikhlas kalo nanti direvisi lagi. Yah..mungkin ini memang jalannya...

But, (5/10) Pembimbing Akademik’s said..

“Mbak ini saya acc tapi bagian rumusan masalah diperbaiki kalimatnya ya?”
Hwuahwaa... ACC?!!

Alhamdulillah ya Rabb, rasanya lega banget melewati badai ini... 
Saya bergegas menjabat tangan PA dan mengatakan terimakasih, ke Lab saya senyam-senyum geje. Hehehe. Saya memang orangnya ekstrovert, jadi kalo seneng bakal keliatan banget kalo galau pun bakalan keliatan juga.. Ekspresif mungkin nama lainnya.
Seminggu kemudian saya bertemu dengan Ketua BKK saya, dan.... Alhamdulillah di ACC juga...
Lega juga *dikiiiit* tapi The Real Jungle is Coming....!!!!!
Hwuahwaa...
Bismillah...
Skripsi ini (mungkin) sebenarnya mudah, hanya butuh kegigihan!!
Yupzz, gigih ngadepin dosen, gigih ngadepin sakit, gigih ngadepin males, gigih ngadepin sikap menunda-nunda, gigih nyari duit*butuh pasokan buku nih...*, dan gigih-gigih yang lain..

Apalagi sekarang saya juga sedang menjalani masa PPL(Praktik Pengalaman Lapangan) buat mengajar di salah satu SMK di kota Solo... It’s not easy but it’s possible...
Hmm... setelah badai “hopeless tingkat dewa” saya sudah siap untuk berusaha lagi! Siap untuk kecewa, siap untuk jatuh, siap untuk ‘disakiti’ dan yang pasti saya SIAP UNTUK BERHASIL!!!


Badai datang bukan untuk merobohkan layar perahu kita, tapi untuk menguji ketahanan kita di tengah lautan lepas...


Tak hanya badai, setelah ini akan melewati hutan belantara... untuk dapat mencapai puncak gunung. Butuh rekan seperjalanan yang mumpuni, butuh bekal semangat dan motivasi yang banyak, dan ransel berisi kegigihan dan keikhlasan... 

IT’S NOT EASY BUT POSSIBLE!!