Globalisasi menuntut adanya kesiapan untuk berkompetitif di ranah manapun. Persaingan untuk dapat menguasai dan menggenggam dunia. Sebagai suatu bangsa dan menjadi bagian dari ASEAN maka Indonesia harus berupaya untuk survive dengan kompetisi yang ada.
Untuk mengatasi adanya persaingan global yang terjadi dapat dilakukan dengan lewat ekonomi, politik, hukum maupun budaya. Yah....salah satunya adalah lewat kesenian. Kesenian lokal untuk dunia internasional. Sehingga kesenian apapun itu dapat dinikmati oleh seluruh penjuru dunia. Ketika blueprint dari Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah dilakukan maka ASEAN sudah tidak bersekat lagi.
Model Masyarakat Ekonomi ASEAN ini mirip dengan Masyrakat Ekonomi Eropa yang telah diterapkan sebelumnya. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN maka kerjasama antar Negara ASEAN tak hanya terbatas pada bidang ekonomi tapi juga meluas pada kerjasama politik, hukum dan budaya. Yang dapat kita ambil hikmahnya adalah selama ini apabila regionalisme lebih menekankan pada sektor perdagangan, tetapi MEA mencakup berbagai aspek hingga produksi dan arus bebas jasa dan tenaga kerja. Hal ini secara jangka panjang mampu memberikan impact positif terhadap pembangunan ekonomi dalam negeri, terutama dalam hal transfer teknologi dan ilmu pengetahuan. Bagaimana pesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA, terutama dalam mendandani sektor industri agar tidak kalah dengan industri negara lain.
Mungkin Indonesia kalah dengan Singapura yang memiliki perindustrian yang hebat. Tapi Indonesia dapat menang dalam hal pariwisata. Indonesia memiliki banyak potensi pariwisata. Mulai dari wisata heritage sampai wisata nature. It’s so amazing…
Dikota Solo sendiri ada tiga agenda unggulan, yaitu Mangkunegaraan Performing Art yang diadakan oleh Keraton Mangkunegaraan Surakarta.Mangkunegaraan Performing Art,ada juga agenda SIEM(Solo International Ethnic Music), SIPA(Solo International Performing Art) yang akan diadakan pada tanggal 1-3 Juli. Yang membedakan ketiga acara tersebut adalah Mangkunegaraan Performing Art menampilkan performing dari Keraton Mangunegaraan, sedang Solo International Ethnic Music(SIEM) lebih kepada musiK-musik etnik dari berbagai Negara, Solo International Performing Art(SIPA) menampilkan kesenian-kesenian dari berbagai tempat baik nasional maupun internasional.
Pura Mangkunegaraan malam ini begitu megah. Lampu-lampu berkilauan. It’s so nice…. Ditengah hiruk pikuk globalisasi ternyata animo masyarakat untuk melihat pertunjukan masih sangat besar. Terlihat dari banyaknya orang memadati Pura Mangkunegaraan ini. Mnagkunegaraan Performing Art, yah…tentunya selain untuk hiburan rakyat ini sangat tepat untuk mempromosikan pariwisata Solo.
Dalam Mangkunegaraan Performing Art kali ini agak sediikit berbeda, karena tak hanya menampilkan pertunjukan seni tapi juga terdapat Pameran makanan khas Solo, yang katanya banyak disukai oleh para raja Solo seperti garang asem bumbung dan sega golong. Selain makanan kesukaan raja. Ada juga makanan kesukaan rakyat kecil. Yaitu sate kere. Hmmm…yummy! Sate apaan nih? Kok konotasinya negatif gini yak? Jangan mikir yang aneh-aneh dulu deh, sate ini terbuat dari ‘daging’yang mirip ayam atau kambing, yaitu tempe dan gembus. Yah…resepnya sama saja kok dengan sate kebanyakan, hanya daging diganti dengan tempe dan gembus. Rasanya mantap. Pedasnya pas. Cukup dengan kucek Rp 5.000,00 sudah didapat lontong dan 5 tusuk sate. Yummy banget!
Mangkunegaraan Performing Art dimulai pukul 19.10. Tarian yang dihadirkan ada 4 yaitu, Tari Gambyong Pareanom Mangkunegaran yang dimainkan oleh 7 orang penari . Tarian ini merupakan tarian penyambutan tamu dan berkembang menjadi tarian hiburan. Untuk gambyong Pareanom Mangkunegaran telah diwirengkan sehingga kostum tidak memakai kemban tetapi mekak dengan memakai jamang. Kostum yang dikenakan hijau kuning. Tari Gambyong Pareanom selesai, disusul Tari Srimpi Pandelori. Menceritakan peperanagn Sang Dyah Sirtupelahali putrid dari Sri Karsinah yang sedang naik burung garuda melayang di angkasa mencari keberadaan suaminya Sang Ambyah yang dipenjara oleh Prabu Kanyun di Parangakik. Ditarikan oleh 4 orang penari. Hmm…tarian ini dilakukan dengan gemulai selama 45 menit.
Performing malam ini diakhiri dengan tari Bregodo Pareanom. Sebuah karya seni yang berceita tentang spirit: saling membantu, saling memberi, menceritakan laku Raden Mas Said dalam rupaya mewujudkan tatatanan kehidupan yang lebih baik.
Acara pun selesai pada jam 21.38, hampir semua orang terhibur dengan acara malam ini. Yah diharapkan dengan adanya Mangkunegaraan Performing Art ini banyak wisatawan dari luar negeri, dengan begitu masyarakat luar negeri akan tahu banyak tentang pariwisata Solo. Akan banyak devisa yang disumbangkan untuk Indonesia. Dari Indonesia akan dikembalikan untuk kesejahteraan Masyarakat ASEAN kebanyakan.
Anda akan mendapatkan banyak hal di Solo, selain pertunjukan seni dan batik. Anda juga dapat berbelanja di kota Solo, mendapatkan barng-barang dengan harga miring. So…Solo adalah pilihan yang tepat untuk berlibur!!So,lets go to Solo !!!
artikel baru : Inovasi Tiada Henti menuju Masyarakat Berkehidupan Mandiri, smoga menginspirasi kawan :)
BalasHapusiya mb tini... makasih infonya.
BalasHapussukses selalu yak!