Rabu, 11 September 2013

Kurikulum 2013, Solusi Terbaikkah?


 
Bu, Bu... ini RPP saya salah lagi... salah lagi...
Sudah 5 kali revisi Bu...
Bu, promes protanya kok gitu? Bukannya begini to?
Bingung Bu, saya buat silabusnya...
Nanti akan supervisi di jam pertama..
Saya belum buat RPP Bu, anak saya rewel terus...
Bu, lha kemarin saya dinyatakan ‘GAGAL’ karena tidak sesuai RPP...

Itu beberapa kata, keluh, ungkapan dari guru-guru di salah satu SMK di perbatasan Ngawi-Madiun, layaknya trending topic hampir setiap pagi hal itu yang diperbincangkan. 


Kurikulum 2013.

Kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP). Kurikulum yang diharapkan mampu membawa perubahan terhadap karakter peserta didik, mampu membuat peserta didik lebih peduli terhadap sekitar, dan pada intinya menjadikan kualitas pendidikan di Indonesia lebih baik.

Alasan Pemerintah mengubah kurikulum  adalah sebagai berikut:
“..Dari  sek ian  banyak  unsur  sumber  daya  pendidikan,  kurikulum merupakan  salah satu  unsur  yang  bisa memberikan  kontribusi  yang  signifikan  untuk mewujudkan proses  berkembangnya  kualitas  potensi  peserta  didik.  Jadi  tidak  dapat  disangkal lagi  bahwa  kurikulum,  yang  dikembangkan  dengan  berbasis  pada  kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia  berkualitas  yang mampu  dan  proaktif menjawab  tantangan  zaman  yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia,  sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan  (3) warga  negara  yang  demokratis  dan  bertanggung  jawab.  Pengembangan  dan pelaksanaan  kurikulum  berbasis  kompetensi  merupakan  salah  satu  strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.”
“...Dengan berbagai kemajuan yang  telah dicapai, mutu pendidikan  Indonesia harus terus  ditingkatkan.  Hasil  studi  PISA  (Program  for  International  Student Assessment), yaitu studi yang memfokuskan pada literasi bacaan, matematika, dan IPA, menunjukkan  peringkat  Indonesia  baru  bisa menduduki  10  besar  terbawah dari  65  negara.  Hasil  studi  TIMSS  (Trends  in  International  Mathematics  and Science  Study) menunjukkan  siswa  Indonesia  berada  pada  ranking  amat  rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis dan pemecahan masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. Hasil studi ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum  dengan  tidak  membebani  peserta  didik  dengan  konten  namun  pada aspek  kemampuan  esensial  yang  diperlukan  semua  warga  negara  untuk berperan serta dalam membangun negara pada masa mendatang”
(Dokumen Kurikulum 2013)

Pengubahan kurikulum tentunya sudah dipikirkan matang-matang oleh pemerintah, mengenai dampak baik-buruknya. Pemerintah pun tidak langsung menggunakan kurikulum 2013 secara masal, tapi ada sekitar 6300an sekolah pilot yang dijadikan sasaran uji coba kurikulum 2013. Setelah diuji coba akan dievaluasi pelaksanaan kurikulum 2013. Ditargetkan pada tahun 2015 semua sekolah di Indonesia telah menerapkan Kurikulum 2013. Pemerintah telah mempersiapkan banyak hal demi terlaksananya  kurikulum ini, seperti pengembangan buku siswa dan pedoman guru serta pelatihan PTK. Entah berapa dana yang dikeluarkan demi sebuah Kurikulum....

Sebagai seorang pendidik berlatarbelakang Ekonomi, maka saya melihat ada berapa banyak oportunity cost yang hilang demi sebuah kurikulum. Kalau kita flashback ke belakang, pergantian Kurikulum apakah memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia? Dari KBK, KTSP, dan terakhir 2013. Kalaupun ada, apakah ini sebanding dengan dana yang dikeluarkan?
kalau saya melihat Permasalahan terbesar sebenarnya ada pada Tenaga Pendidik dan Infrastruktur.

Ya. Kalau ingin membentuk karakter anak, didiklah gurunya agar berkarakter. Karakter yang dapat diteladani. Guru merupakan komponen  terbesar dalam mengaruhi pola pikir peserta didik, informasi yang paling akurat yang didapat dari guru. Ketika di depan kelas, maka hak preogratif ada di tangan guru. Walaupun anak jaman sekarang sudah mengenal banyak media informasi, tapi tetaplah informasi dari gurulah dianggap paling akurat. Ruang kelas, adalah tempat yang baik(walaupun bukan terbaik) untuk memengaruhi anak. Dengan menyisipkan pesan-pesan kejujuran, kemandirian dan kepedulian pada materi-materi pelajaran yang diberikan.

Kurikulum mungkin tidak perlu diubah, hanya perlu ditambahkan hal-hal yang relevan dengan perkembangan zaman. Dana yang ada bisa untuk meningkatkan kualitas guru lokal maupun nasional melalui pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan. Pelatihan-pelatihan ini tidak hanya dilakukan 1-2 kali tapi beberapa kali, tidak hanya untuk daerah pusat tapi juga pinggiran.

Masih banyak  guru-guru yang ngajar  asal ngajar, hanya asal menyampaikan materi, yang penting tugasnya telah selesai. Bukan karena apa-apa, karena kurangnya kepahaman tentang arti dari mengajar, mendidik.

Pergantian kurikulum juga inefisien bagi guru-guru, karena harus melakukan penyesuaian materi, media, silabus, RPP pembelajaran. Itu tidak membutuhkan waktu yang sedikit, sampai berbulan-bulan. Padahal waktu yang ada dapat digunakan untuk mengembangkan materi pembelajaran, melakukan inovasi, dan sebagainya. Untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif untuk peserta didik daripada berdebat soal susunan RPP.


Selain untuk pengembangan dn pelatihan guru, dana kurikulum bisa ditambahkan pada anggaran perbaikan infrastruktur sekolah. Semakin banyak sekolah layak huni, insyaallah semakin banyak sekolah berprestasi. Kalau kita mau membuka mata, ada berapa banyak sekolah yang atapnya bocor, sekolah yang, maaf, seperti kandang ayam, ada berapa banyak sekolah yang dindingnya mau roboh, ada berapa banyak sekolah tak punya perpustakaan? Anak akan terbantu maju dengan adanya fasilitas pendidikan yang memadai.

Guru dan Infrastruktur rasanya yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan, bukan kurikulum. 

Jumat, 23 Agustus 2013

RUMAH CERIA



Tepuk 1!
Plok...
Tepuk 2!
Plok...plok...
Tepuk 3!
Plok...plok...plok...
Tepuk Semangat!
Se... ma..ngat...!! Semangat!!
Bagaimana kabarnya hari ini?
ISTIMEWA....!!!

Itulah ‘salam pembukaan’ belajar sore ini... semoga dengan itu anak-anak bersemangat sebelum pembelajaran di Rumah Ceria dimulai.

 RUMAH CERIA.

Rumah Ceria merupakan tempat memberikan pendampingan belajar gratis untuk anak-anak tingkat SD di dearah Dempul, Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen. Rumah Ceria bisa dibilang baru seumur jagung, kegiatannya baru dimulai awal Mei, tepatnya tanggal 8 Mei 2013. 




  Ada beberapa hal yang menjadi alasan dan tujuan dari Rumah Ceria:
-         Menjadi sarana pendampingan belajar
        Dari hasil pengamatan beberapa waktu, anak-anak kurang suka belajar karena   tidak tahu pasti alasan mereka belajar dan tidak ada yang mendampingi dalam belajar. Untuk anak-anak SD mereka perlu diberi penjelasan alasan dan manfaat secara konkret mengapa mereka perlu belajar. Pendampingan belajar tidak hanya menemani ketika belajar tapi juga membimbing dan memotivasi anak-anak. Ada beberapa orang tua yang sibuk bekerja sehingga lupa untuk mendampingi anaknya belajar, padahal ada tersebut perlu teman untuk belajar. 
-    Membuat pembelajaran yang menyenangkan. Dengan begitu, belajar bukanlah sebuah nightmare, seperti tagline Rumah Ceria – Cerdas dan Riang – dimana anak-anak menikmati pembelajaran mencerdaskan tapi juga menyenangkan.
-     Rumah Ceria juga ingin mengajarkan karakter, mentalitas. Sikap-sikap baik yang sekarang mulai terkikis oleh zaman. Sikap untuk menghormati orang tua, berkata sopan, jujur, toleransi, tanggung jawab dan sebagainya. 

 Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan dilaksanakan 2x dalam seminggu, yaitu hari Rabu dan Sabtu. Di hari Rabu kita belajar pelajaran sekolah dan di hari Sabtu kita belajar hasta karya/softskill. Di hari Sabtu diisi dengan non-pelajaran, seperti menggambar, membuat tempat pensil, bercerita, origami dan sebagainya.

Anak-anak juga diajari untuk menabung, secara tidak langsung ini  mengajari anak-anak untuk paham tentang “financial education” atau pendidikan keuangan. Hal ini amat penting seperti yang disampaikan oleh Robert T.Kiyosaki, bahwa yang hilang dalam dunia pendidikan kita bukanlah bagaimana menghasilkan uang tapi bagaiamana membelanjakan uang kita.
Menabung pun menjadi alternatif saat ini, menabung untuk membeli kesenangan mereka sendiri. Yaitu ketika tabungan mereka cukup, maka kita akan berkunjung ke suatu tempat.

Walaupun sebenarnya cara terbaik untuk ‘membeli’ masa depan bukan dengan menabung tetapi investasi. Namun perlu proses untuk menyederhanakan investasi untuk ukuran anak SD. Jadilah mereka diajari menabung terlebih dulu, setidaknya mereka belajar bersabar dan berproses untuk mendapatkan apa yang diimpikan –karakter-

 

Liburan ke Museum Sangiran dan Outbond

Bagaimana dengan pendanaan?
Pendanaan diperoleh dari teman-teman yang tergerak untuk berdonasi.  Terimakasih untuk partisipasi temen-temen yang sudah menyumbangkan buku bacaan, alat tulis, cash money, tenaga(pengajar). Bahkan ada donasi yang tak bernama, hanya di titipkan ke orang lain tanpa terdeteksi siapa penyumbangnya. Subhanaallah... semoga kebaikannya dibalas dengan sesuatu yang lebih baik.... :)

Sampai sekarang Rumah CERIA terus berproses, membuat kurikulum pembelajaran, mengkonsistenkan anak-anak yang datang, menambah pengajar. Harapannya pengajaran yang mencerdaskan dan menyenangkan bisa dinikmati lebih banyak anak.. :)

Salam Cerdas dan Riang!











Selasa, 30 Juli 2013

TAK ADA ORANG TUA SEMPURNA, KAWAN!




Sering saya mendengar beberapa teman bercerita tentang kondisi orang tuanya yang tidak sesuai harapan, kurang inilah, kurang begitulah, tidak bisa ini, tidak bisa itu...
Hmm... kadang pun saya juga masih mengalami hal seperti itu dengan orang tua saya, tapi semoga tulisan ini bisa menjadi reminder saya dan alhamdulillah kalo bisa menjadi reminder teman-teman juga... 



Alloh membawa kita ke bumi ini dengan perantara orang tua, Alloh lah yang juga memilihkan orang tua untuk kita, lalu apakah ada yang salah dengan pilihan Alloh? Tentu tidak.

Kita tidak bisa memilih orang tua seperti apa yang akan melahirkan kita, yang kita tahu kita sudah di bumi dan tumbuh besar menjadi manusia dewasa. Kalau boleh memilih tentunya, memilih lahir di tengah keluarga kaya raya, bereligius tinggi, berpengetahuan luas dan dermawan. What a perfect life! :D

Tapi, lagi-lagi sayangnya kita tidak bisa memilih. Apa adanya orang tua kita,  itulah mereka. Mungkin kita lahir di tengah-tengah keluarga pas-pasan, pas hartanya, pas agamanya, pas ilmunya. Segala kelebihan dan kekurangannya adalah hal yang patut kita syukuri. Bersyukur karena masih memiliki orang tua yang sayang dan perhatian pada kita, walaupun kadang cara mengutarakan berbeda. Pada dasarnya orang tua menyayangi  dan menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Namun terkadang cara mereka yang salah, mungkin mereka tidak mengungkapkannya dengan nasehat yang halus, pelukan, ciuman dan belaian hangat tetapi dengan gertakan, bantahan, pukulan, dan sebagainya. Sadarilah itu cara mereka mengungkapkan, mereka hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kita. Sebagai anak yang sudah beranjak dewasa dan memiliki pemahaman yang baik, coba kita tunjukkan kedewasaan kita dengan tidak balik melakukan hal yang sama pada mereka, misalnya ketika digertak, jangan balik menggertak tapi berbicaralah dengan halus...

Lalu bagaimana jika orang tua kita memiliki perilaku yang buruk?
Misalnya tidak menjalankan tanggung jawabnya, tidak mengurus kita dengan baik? 
Tidak memberikan nafkah batin (kasih sayang) dan lahiriah (materi)?
Bagaimana kalau orang tua kita otoriter?
Bagaimana kalau orang tua kita ternyata main serong(selingkuh)?
Bagaimana kalau orang tua kita adalah penjudi?
Bagaimana kalau orang tua kita seorang napi?
Bagaimana kalau orang tua kita seorang koruptor?
Bagaimana kalau orang tua kita seorang gelandangan?

Adakah  alasan untuk membenci dan tak berbakti??

Ketahuilah... jasa terbesar orang tua adalah mempertemukan sel sperma pada sel telur. Ada jutaan sel sperma, dan hanya 1 yang bisa hidup. Dan itu KAMU. Karena mereka KAMU ada di dunia ini.

Syukurilah.
Terlepas apa latar belakang mereka, terlepas perlakuan mereka terhadapmu. Terlepas apapun itu. Tetep berbaktilah!

Masih ingatkah kamu tentang sabda Rasulullah, yang tetap menyuruh kita berbakti pada orang tua walaupun berbeda keyakinan? Yup. Tetap dengan catatan, tidak berbakti dalam amalan aqidah yang berbeda.

Perlakukan mereka dengan baik, bertutur katalah yang halus, doakan mereka selalu. Yakinlah bahwa hidayah Alloh tidak akan kemana. Kondisi apapun yang Alloh berikan bukan untuk melemahkan kita, tapi menguatkan kita. Agar kita bisa menjadi muslim kuat, muslim yang tangguh! 


Ketika mengharapkan kesempurnaan pada diri seseorang,
 pada akhirnya sakit hatilah muaranya.






*catatan untuk diri dan sahabat , July, 30th 2013

ORANG MERUGI ITU, APABILA . . .




Ketika Rasulullah sedang berkhotbah di mimbar,
tiba-tiba beliau mengucapkan amin sebanyak tiga kali...
Amin...
Amin...
Amin...
Setelah Rasullullah turun dari mimbar para sahabat bertanya :
“Ya Rasullullah, mengapa tadi kau mengucapkan Amin sebanyak 3 kali?”
Rasulullah pun menjawab,
“Aku sedang mengaminkan doa malaikat Jibril”
“Doa apa itu ya Rasullulah?”
“Termasuk didalamnya orang-orang merugi: 
1.   Apabila disebut namaku (Muhammad) dan tidak bersholawat kepadaku  
2.  Apabila masih memiliki orang tua namun tak bisa masuk surga
3.  Apabila datang bulan Ramadhan namun tak berkurang dosa darinya

            Ada 3 hal pokok dalam doa diatas:

Apabila kita mendengaar nama Rasulullah, Nabi Muhammad, hendaknya kita bersholawat padanya.. Apabila hal itu tidak kita lakukan, maka kita termasuk orang-orang yang merugi. Kenapa? Lihat saja, berapa banyak jasa Rasulullah? Membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman terang benderang? Menjadikan kita umat yang pertama masuk surga sebelum umat Nabi-Nabi yang lain? Mencintai kita sepenuh hati hingga di nafas terakhirnya, beliau masih mengingat kita dan berkata “Ummati..ummati...” Subhanaallah... bahkan Rasulullah lah yang akan memberikan syafaat di hari akhir kelak, hari dimana tak ada lagi pertolongan kecuali dari Rasulullah dan Allah Azza wa Jalla. Apakah berat melafalkan “Allhahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ala illahi Muhammad”
Sungguh benar-benar merugi orang yang tidak mengamalkannya.

 Apabila kita masih memiliki orang tua namun kita tidak bisa masuk surga karenanya, sungguh sangat merugilah kita. Karena surga begitu dekat, cukup berbakti pada orang tua, berbuat baik padanya. Insyaallah Jannah akan kita peroleh. Lalu bagaimana kalo orang tua kita tidak baik, tidak mengurus kita, meminta kita melakukan hal-hal buruk? Akan kita bahas selengkapnya pada postingan Tak Ada Orang Tua Sempurna, Kawan!
Apabila datang bulan Ramadhan tapi dosa-dosa kita tak berkurang karenanya. Sungguh rugi. Padahal di Bulan Ramadhan semua amalannya dilipatgandakan pahalanya. Pahala ibadah sunnah layaknya pahala ibadah wajib dan pahala ibadah wajib dilipatkan 70 kali. Ramadhan bulan penuh ampunan, berkah dan rahmat. Hendaknya kita mengkhusukan sholat, memperbanyak tadarus Al Qur’an, memperbanyak berderma, menuntut ilmu, muhasabah dan amalan-amalan lainnya. Ketika Allah melimpahkan semua rahmat-Nya dan dosa-dosa kita tak berkurang bahkan malah bertambah? Naudzubillah... adakah kata selain merugi??

Lalu, KONSEKUENSI apa yang didapat ORANG MERUGI?
Tentu, semakin jauh dari surga dan semakin dekat dengan neraka.

Wallahu a'lam bish shawabi.



 July, 27th 2013 @mieanglo