Sabtu, 07 Desember 2013

Cerita Pernikahan (1)




 “Bu Indah nikahnya kapan?”
“ Eh, kapan nyusul ndah?”
 “Kapan gantian dijagongi?”

Betapa sering kata-kata itu mendarat di telinga saya, entah di rumah, di sekolah, di komunitas… rasanya heuheu banget…. Setelah masalah kuliah, kerja selanjutnya adalah kata “nikah’lah yang sering ditanyakan. It’s normal, secara umur 20an keatas memang sudah hal yang biasa untuk membahas dan rasanya memang sudah saatnya.. :)

Disini saya tidak akan membahas kapan saya akan menikah, dengan siapa, bagaimana konsep pernikahan saya *hauah, berasa artis konferensi pers* tapi tentang beberapa cerita pernikahan orang-orang di sekitar saya dan apa alasan mereka menikah. Kalau cerita Habibie-Ainun kan sudah banyak yang tahu, tapi di tulisan ini saya akan menuangkan yang ada di sekitar saya. Ya.. hikmah-hikmah yang bisa diambil, setidaknya itu menjadi bekal kita bersama ketika sudah benar-benar siap untuk menikah :)

Cerita pertama, datang dari seorang dosen saya, sebut saja Bu E. Bu E ini memulai biduk pernikahan ketika usianya hampir kepala 3, ya… karena beliau sebelumnya konsen untuk karir. Ketika masih kepala 2 beliau sering dicomblangkan oleh keluarganya mulai dari yang pegawai sampai dokter. Tapi dari sekian banyak yang dicombalngin, atau calon pelamar yang datang hampir setiap minggu tidak ada yang nempel di hati. Tau kenapa? Ya namanya hati… kalo nggak suka, mau pangkatnya setinggi apapun, gelarnya sepanjang apapun, kalo nggak suka ya nggak suka… hehehe.

Ternyata oh ternyata hati beliau sudah nempel di satu dinding, dinding hatinya Pak G. Mereka teman satu SMA, jaman-jaman sekolah sih belum ada tanda-tanda suka, tapi ketika kuliah baru ada ‘something special’.

Mereka pacaran bertahun-tahun, dan akhirnya menikah, saat itu Pak G belum memiliki pekerjaan tetap, Bu E pun masih jadi dosen di PT swasta. Tapi dengan penuh keikhlasan dan ketulusan mereka menjalani hari-hari dengan penuh cinta. Kalau pun ada cekcok masih dalam batas wajar, pernah suatu ketika Bu E dan Pak G sedang mengalami masa-masa pailit, di rumah tak ada satu bulir pun beras. Sampai-sampai 1 bulan itu mereka makan dengan mie instan. Heuheu banget deh. Sepertinya semua terbalas dengan beliau sudah menjadi dosen tetap dan suaminya sudah bekerja di kantor pemerintahan.

Lalu, saya bertanya apa yang mendasari pernikahan Bu E? Apa yang membuat Bu E memilih Pak G? apa karena agama? Ilmu? Atau yang lain?
Beliau menjawab, ya…karena suka…karena cinta gitu aja. Saya tidak berpikir kedepannya bakal bagaimana, bagaimana, ya kalo saya suka ya suka aja.

Tapi setelah menjalani  bertahun-tahun, beliau sadar bahwa membuat mereka menjalani dan mempertahankan pernikahan ini, karena mereka yakin! Yakin adanya Alloh, yakin akan pertolongan Alloh, yakin akan kepulangan ke hadirat Alloh. Sehingga semua permasalahan yang dihadapi dengan sabar, bahkan mungkin mereka menghadapinya dengan tertawa bersama.

Perlu diketahui, selama hampir 12 tahun usia pernikahan mereka belum dikarunia momongan. Usaha-usaha untuk mendapatkan momongan mereka lakukan, mulai dari dokter sampai alternative bertahun-tahun tapi belum ada hasilnya. Sampai suatu ketika, ditengah keputusasaan, di tengah kepasrahan, di ‘keberhentian berharap’ pada bulan Oktober 2013, Bu E dinyatakan positif hamil. Subhanaallah… Allahu akbar!!!Alloh menunjukkan kuasanya di saat-saat tak terduga. Rasanya itu buah dari keyakinan dan kesabaran mereka selama ini . Selamat menunggu hari kelahiran Bu, always miss you:)



 
To be continue….




Tidak ada komentar:

Posting Komentar