“Bu Indah nikahnya
kapan?”
“ Eh, kapan nyusul ndah?”
“Kapan gantian
dijagongi?”
Betapa sering
kata-kata itu mendarat di telinga saya, entah di rumah, di sekolah, di
komunitas… rasanya heuheu banget…. Setelah masalah kuliah, kerja selanjutnya
adalah kata “nikah’lah yang sering ditanyakan. It’s normal, secara umur 20an
keatas memang sudah hal yang biasa untuk membahas dan rasanya memang sudah
saatnya.. :)
Disini saya tidak akan
membahas kapan saya akan menikah, dengan siapa, bagaimana konsep pernikahan
saya *hauah, berasa artis konferensi pers* tapi tentang beberapa cerita
pernikahan orang-orang di sekitar saya dan apa alasan mereka menikah. Kalau
cerita Habibie-Ainun kan sudah banyak yang tahu, tapi di tulisan ini saya akan
menuangkan yang ada di sekitar saya. Ya.. hikmah-hikmah yang bisa diambil,
setidaknya itu menjadi bekal kita bersama ketika sudah benar-benar siap untuk
menikah :)
Cerita pertama, datang
dari seorang dosen saya, sebut saja Bu E. Bu E ini memulai biduk pernikahan
ketika usianya hampir kepala 3, ya… karena beliau sebelumnya konsen untuk karir.
Ketika masih kepala 2 beliau sering dicomblangkan oleh keluarganya mulai dari
yang pegawai sampai dokter. Tapi dari sekian banyak yang dicombalngin, atau
calon pelamar yang datang hampir setiap minggu tidak ada yang nempel di hati.
Tau kenapa? Ya namanya hati… kalo nggak suka, mau pangkatnya setinggi apapun,
gelarnya sepanjang apapun, kalo nggak suka ya nggak suka… hehehe.
Ternyata oh ternyata
hati beliau sudah nempel di satu dinding, dinding hatinya Pak G. Mereka teman
satu SMA, jaman-jaman sekolah sih belum ada tanda-tanda suka, tapi ketika
kuliah baru ada ‘something special’.
Mereka pacaran
bertahun-tahun, dan akhirnya menikah, saat itu Pak G belum memiliki pekerjaan tetap,
Bu E pun masih jadi dosen di PT swasta. Tapi dengan penuh keikhlasan dan
ketulusan mereka menjalani hari-hari dengan penuh cinta. Kalau pun ada cekcok
masih dalam batas wajar, pernah suatu ketika Bu E dan Pak G sedang mengalami
masa-masa pailit, di rumah tak ada satu bulir pun beras. Sampai-sampai 1 bulan
itu mereka makan dengan mie instan. Heuheu banget deh. Sepertinya semua
terbalas dengan beliau sudah menjadi dosen tetap dan suaminya sudah bekerja di
kantor pemerintahan.
Lalu, saya bertanya
apa yang mendasari pernikahan Bu E? Apa yang membuat Bu E memilih Pak G? apa
karena agama? Ilmu? Atau yang lain?
Beliau menjawab,
ya…karena suka…karena cinta gitu aja. Saya tidak berpikir kedepannya bakal
bagaimana, bagaimana, ya kalo saya suka ya suka aja.
Tapi setelah menjalani
bertahun-tahun, beliau sadar bahwa
membuat mereka menjalani dan mempertahankan pernikahan ini, karena mereka
yakin! Yakin adanya Alloh, yakin akan pertolongan Alloh, yakin akan kepulangan
ke hadirat Alloh. Sehingga semua permasalahan yang dihadapi dengan sabar,
bahkan mungkin mereka menghadapinya dengan tertawa bersama.
Perlu diketahui,
selama hampir 12 tahun usia pernikahan mereka belum dikarunia momongan. Usaha-usaha
untuk mendapatkan momongan mereka lakukan, mulai dari dokter sampai alternative
bertahun-tahun tapi belum ada hasilnya. Sampai suatu ketika, ditengah
keputusasaan, di tengah kepasrahan, di ‘keberhentian berharap’ pada bulan
Oktober 2013, Bu E dinyatakan positif hamil. Subhanaallah… Allahu akbar!!!Alloh
menunjukkan kuasanya di saat-saat tak terduga. Rasanya itu buah dari keyakinan dan
kesabaran mereka selama ini . Selamat menunggu hari kelahiran Bu, always miss
you… :)
To be continue….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar