Selasa, 11 September 2012

HAPPY TEACHING (Yukk...Ngajar!!)


“Mbak Indah, kapan bisa ngajar Nanda?” –Om Dadut-
“Dinda lesnya malam Senin dan malam Rabu geh mbak...” –Bulik Dwi-
“Mbak Indah, Amel pengin diajarin Bahasa Inggris...” –Bulik Tuti-
“Jadwal nggajiku kapan lagi, Mbak?” –Inez-
“Mbak Indah, kok sekarang jarang ke Darussalam?” –Wulan-
“Mbak, kok udah tidur? Ajari Fisika....!!! -Fitria, adek-


Hoaammm...begitulah secuplik pertanyaan menohok yang sering saya dengar...

Jujur, ingin rasanya bisa lebih banyak membagi ilmu pada anak-anak di sekitar saya, rasanya sangat merasa bersalah ketika menolak mengajari mereka. Bukannya kenapa-kenapa, tapi lagi-lagi saya merasa kewalahan membagi waktu saya. Apalagi ditambah kebiasaan buruk atau lebih tepatnya semacam penyakit yang selalu datang di malam hari, apakah itu?? Yupp... Ngantuk!!! Keinginan untuk bisa melakukan lebih dan rencana-rencana ‘bermanfaat’ pun kandas sudah ketika serangan Ngantuk datang... yah...walo tugas belum terselesaikan, kadang tanpa sadar saya sudah tertidur di meja dan netbook saya masih menyala. Kadang saya juga nggak sadar sudah terkepar di kasur...

Entahlah apa sebabnya, yang membuat saya begitu mudah give up sama ngantuk...*hadeh*

Apapun kebiasaan buruk-penyakit- saya, semangat untuk berbagi ilmu rasanya tak pernah surut. Saya saat ini mengajar privat dan menjadi Sekretaris Bimbingan Belajar LAZIS UNS, yang kegiatan tersebut didominasi oleh anak-anak usia SD...
Selama ini saya melihat bahwa anak-anak di sekitar kampus ataupun di rumah saya memiliki minat belajar yang cukup baik, hanya saja mereka butuh orang-orang yang mau menemani mereka belajar syukur-syukur mengarahkan bakat dan minat mereka. Menurut pengamatan, sebenarnya anak-anak usia SD, SMP maupun SMA hanya butuh TEMAN BELAJAR. Belajar apapun, pelajaran sekolah, softskill, lifeskill termasuk juga belajar tentang hidup.

Karena kesibukan orang tua, tak ada TEMAN BELAJAR dan ‘kecuekan’ lingkungan akan pentingnya belajar, maka mereka pun menjadi anak yang anti belajar. Anak-anak lebih memilih kegiatan yang ‘menyenangkan’ versi mereka, main PS, Tamiya, kongkow –kongkow geje, balapan liar... Hmm...Ironis memang. Keprihatinan ini yang membuat saya begitu menghargai orangtua-orangtua yang antusias meminta anaknya diajari, dan dibuat trenyuh ketika anak-anak itu yang bilang sendiri minta diajari.

Seandainya, orangtua,keluarga dan para pemuda mau sedikit meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak di sekelilingnya belajar maka tak akan ada anak yang melakukan hal-hal negatif yang sering dikeluhkan orang tua terhadap anak-anaknya.

Menurut saya, rasanya kontradiktif juga, ketika banyak orang membuat komunitas-komunitas sosial pengajaran dimana-mana namun adiknya, keponakan, anak tetangganya tak terperhatikan belajarnya. Bukankah menolong itu dari yang terdekat? Rasululllah pun mengajarkan untuk bersedekah mengutamakan keluarga atau saudara terdekat yang membutuhkan baru kemudian tetangga? Hmm..Jangan sampai kita dzolim geh... #sedang belajar mengurangi kedzoliman nih.. #

Ketika ilmu dibagikan, dia tidak akan berkurang tapi akan selalu bertambah... seperti halnya amal jariyah. Yah...walaupun hanya mengajari keponakan kita mengeja kata per kata, mengajari anak tetangga berhitung... bagi mereka yang belum paham adalah suatu anugerah ketika dipahamkan . Dan melihat senyum kepahaman mereka adalah imbalan yang tak terungkapkan .

HAPPY TEACHING IN EVERYWHERE..!! Keep Istiqomah!!

-ketika kamu sibuk memyelesaikan urusan orang lain maka Allah akan sibuk menyelesaikan urusannmu-




Tidak ada komentar:

Posting Komentar