Rabu, 20 April 2011

Some Questions

Pukul 17.27 saya meninggalkan FORBES(Forum Bersama) Dagri se-UNS dengan berbagai pertanyaan yang bergumpul di pikiran.

Sepanjang perjalanan saya merasa galau akut, dan saya pesan’jangan dekat2 orang galau’ nanti akan ketularan galau… gegege. Tentang pertanyaan mau seperti apa kedepannya saya? Bagian mana yang mesti saya fokuskan? Bagian mana yang mesti saya korbankan? Apa gunanya masuk dalam komunitas Gerakan Mahasiswa? Mengapa kita harus menjadi bagian dari Gerakan Mahasiswa?
Saya mencoba menjawab pertanyaan2 itu satu persatu, yah…sambil mengendarai motor(40km/jam, slow but sure, hauah).




Kedepan saya akan menjadi indah. Indah yang seperti saya tulis di buku catatan hidup. Fokus saya adalah, pendidikan, social dan politik. Untuk era sekarang, orang tak hanya perlu pintar teori tapi harus pintar berpolitik juga. Politik yang baik. Karena kalau kita pintar tapi tak bisa berpolitik maka hanya ada 2 pilihan, kita diakali atau dibumihanguskan. Hmmm…saya jadi inget pemilihan Dekan yang akan dilaksanakan maksimal 15 hari setelah tanggal 27 April mendatang. Pemilihan Dekan ini meninggalkan polemic sendiri bagi kami, anak-anak gerakan. Karena civitas akademika tidak dilibatkan dalam pemilihan, sepenuhnya penentuan adalah hak Senat. Lalu fungsi pembelajaran demokrasi itu apa? Apa ini hanya sekedar teori yang diajarkan di kelas-kelas? Atau demokrasi hanyalah sejarah yang patut dikenang? Entahlah… di lain sisi, saya juga berpikir, mereka yang duduk di kursi Senat tentulah orang-orang yang berpendidikan dan kompeten, so pasti pemikiran mereka insyaallah bisa dipertanggungjawabkan... tapi kami, anak-anak gerakan, tidak diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi, keterbukaan, padahal mahasiswa merupakan salah satu ’korban’ dari adanya kepengurusan struktur fakultas. Kami bukan suudzon tapi hanya mencoba mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan pada fakultas kami
Padahal pemilihan Dekan akan dilaksanakan sebentar lagi, tapi gaung di fakultas belum terdengar. Sepertinya para civitas akademika tidak terlalu peduli dengan satu isu ini, toh Dekan ganti apa uang kuliah jadi turun? Apa untungnya membahas Dekan? yang penting nilai-nilai ujian tak pernah C, nggak peduli siapa Dekannya, mungkin itu pemikiran beberapa mahasiswa. Apatis.

Kembali lagi pertanyaan saya, mana yang mesti dikorbankan? Saya pikir tak ada yang mesti dikorbanan. Walo ada beberapa orang yang bilang, tinggalkan organisasi, focus kuliah dan kerja! Hmmm…saya rasa itu ada benarnya, agar bisa optimal. Apalagi di saat seperti ini, ketika keluarga mengalami masalah financial, mau tak mau harus ikut turun tangan walo tak seberapa. Tapi ada suara di hati kecil saya, bahwa saya tak bisa begitu saja meninggalkan organisasi, Mb TM bilang, penuhi hak diri kita untuk mengembangkan diri. Itu hak kita. Yah.. saya di organisasi berharap bisa saling berdiskusi, share, atau apapun itu… walo saya tak bisa berkontribusi optimal. O-P-T-I-M-A-L. Satu kata yang menjadi dilema bagi saya akhir-akhir ini. Saya takut tak bisa optimal. Tapi saya berdoa dan berharap bisa optimal disetiap lini yang saya ambil. Saya hanya ingin berprestasi, menghasilkan suatu masterpiece, tak hanya omdo. Karya nyata. Rabb, bimbing hamba, permudah jalan hamba…. T.T
Saya menemukan jawaban normatif knapa mesti menjadi bagian dari Gerakan Mahasiswa. Untuk menegakkan kebenaran. Kebenaran ini urusannya dengan Tuhan. Saya belum mendapat jawaban yang substansial dari pertanyaan saya ini. So…I will find the answer again.-19 April 2011-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar